Rabu, 21 November 2012

Peringatan Haul para Pendahulu Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW selalu berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud pada setiap tahun. Sesampainya di Uhud beliau memanjatkan doa sebagaimana dalam surat Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 24: سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. Inilah yang menjadi sandaran hukum Islam bagi pelaksanaan peringatan haul atau acara tahunan untuk mendoakan dan mengenang para ulama, sesepuh dan orang tua kita. Diriwayatkan pula bahwa para sahabat pun melakukan apa yang telah dilakukan Rasulullah. Berikut ini adalah kutipan lengkap hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi: وَ رَوَى الْبَيْهَقِي فِي الشَّعْبِ، عَنِ الْوَاقِدِي، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزُوْرُ الشُّهَدَاءَ بِأُحُدٍ فِي كُلِّ حَوْلٍ. وَ إذَا بَلَغَ رَفَعَ صَوْتَهُ فَيَقُوْلُ: سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّار Al-Baihaqi meriwayatkan dari al-Wakidi mengenai kematian, bahwa Nabi SAW senantiasa berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud setiap tahun. Dan sesampainya di sana beliau mengucapkan salam dengan mengeraskan suaranya, “Salamun alaikum bima shabartum fani’ma uqbad daar” –QS Ar-Ra’d: 24– Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. Lanjutan riwayat: ثُمَّ أبُوْ بَكْرٍ كُلَّ حَوْلٍ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ. وَ كاَنَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا تَأتِيْهِ وَ تَدْعُوْ. وَ كاَنَ سَعْدُ ابْنِ أبِي وَقَّاصٍ يُسَلِّمُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ يَقْبَلُ عَلَى أصْحَابِهِ، فَيَقُوْلُ ألاَ تُسَلِّمُوْنَ عَلَى قَوْمٍ يَرُدُّوْنَ عَلَيْكُمْ بِالسَّلَامِ Abu Bakar juga melakukan hal itu setiap tahun, kemudian Umar, lalu Utsman. Fatimah juga pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdoa. Saad bin Abi Waqqash mengucapkan salam kepada para syuhada tersebut kemudian ia menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata, ”Mengapa kalian tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam kalian?” Demikian dalam kitab Syarah Al-Ihya juz 10 pada fasal tentang ziarah kubur. Lalu dalam kitab Najhul Balaghah dan Kitab Manaqib As-Sayyidis Syuhada Hamzah RA oleh Sayyid Ja’far Al-Barzanji dijelaskan bahwa hadits itu menjadi sandaran hukum bagi orang-orang Madinah untuk yang melakukan Ziarah Rajabiyah (ziarah tahunan setiap bulan Rajab) ke maka Sayidina Hamzah yang duitradisikan oleh keluarga Syeikh Junaid al-Masra’i karena ini pernah bermimpi dengan Hamzah yang menyuruhnya melakukan ziarah tersebut. Para ulama memberikan arahan yang baik tentang tata cara dan etika peringatan haul. Dalam al-Fatawa al-Kubra Ibnu Hajar mewanti-wanti, jangan sampai menyebut-nyebut kebaikan orang yang sudah wafat disertai dengan tangisan. Ibnu Abd Salam menambahkan, di antara cara berbela sungkawa yang diharamkan adalah memukul-mukul dada atau wajah, karena itu berarti berontak terhadap qadha yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Saat mengadakan peringatan haul dianjurkan untuk membacakan manaqib (biografi yang baik) dari orang yang wafat, untuk diteladani kebaikannya dan untuk berbaik sangka kepadanya. Ibnu Abd Salam mengatakan, pembacaan manaqib tersebut adalah bagian dari perbuatan taat kepada Allah SWT karena bisa menimbulkan kebaikan. Karena itu banyak para sahabat dan ulama yang melakukannya di sepanjang masa tanpa mengingkarinya. Demikianlah. Dalam muktamar kedua Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah atau jam’iyyah tarekat-tarekat di lingkungan NU di Pekalongan Jawa Tengah pada 8 Jumadil Ula 1379 H bertepatan dengan 9 November 1959 M para kiai menganjurkan, sedikitnya ada tiga kebaikan yang bisa dilakukan pada arara peringatan haul: 1. Mengadakan ziarah kubur dan tahlil 2. Menyediakan makanan atau hidangan dengan niat sedekah dari almarhum. 3. Membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an dan memberikan nasihat agama, antara lain dengan menceritakan kisah hidup dan kebaikan almarhum agar bisa diteladani.
Waktu pelaksanaan maulid Waktu pelaksanaan maulid ========================= Peringatan maulid Nabi saw yang saat ini dilakukan memang tidak dikenal dan tidak pernah diadakan pada zaman Nabi saw masih hidup. Oleh karena itu, peringatan mauli d Nabi saw sebagaimana yang lazim kita kenal dewasa ini merupakan prakarsa baru atau sering disebut orang dengan istilah bid’ah (mengadakan sesuatu yang dahulunya tidak ada). Akan tetapi, tidak semua prakarsa atau bid’ah itu buruk. Mengenai prakarsa yang berkenaan dengan soal peringatan maulid Nabi saw jelas merupakan prakarsa baik yang patut dihargai. Sebab prakarsa tersebut mengandung banyak kebajikan, didukung oleh dalil-dalil syar’i, dan sudah menjadi tradisi baik kaum muslimin sedunia. Bentuk-bentuk peringatan yang diselenggarakan oleh kaum muslimin di mana-mana, pada umumnya adalah baik, sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam, dan menambah tebalnya rasa kecintaan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. Dalam peringatan maulid Nabi saw semua yang hadir mengucapkan shalawat dan salam serta mengagungkan kemuliaan beliau sesuai dengan perintah Allah swt yang berbunyi : Sesungguhnya Allah swt dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bershalawat baginya dan sampaikanlah salam sejahtera kepadanya’.[1] Menurut kaidah hukum syara’, sesuatu yang diminta supaya dilakukan hukumnya adalah mathlub, yakni hampir sama kuatnya dengan amr atau perintah. Dengan demikian maka jelaslah, bahwa mengadakan peringatan maulid Nabi saw tidak dapat dilepaskan dari kegiatan memenuhi sesuatu yang diminta (mathlub) oleh agama. Sedangkan kegiatan untuk memenuhi tuntutan agama adalah kewajiban yang tak boleh diabaikan. Dari pertemuan-pertemuan yang diadakan untuk memperingati maulid Nabi saw, banyak sekali manfaat yang didapat. Antara lain pengetahuan tentang riwayat hidup Nabi saw, sejarah perjuangan beliau, dan akhlaq serta budi pekerti luhur beliau yang dapat dijadikan suri teladan bagi kaum muslimin dalam kehidupan sehari-hari. Sekalipun yang hadir tidak memahami pembacaan kitab maulid yang ditulis dalam bahasa Arab, namun dengan sepenuh hati dan sepenuh perasaan mereka mengikutinya dengan khidmat dan dengan khusu’ mengagungkan kebesaran Allah serta mengagungkan kemuliaan Rasulullah saw, dengan penuh harapan memperoleh keridhoan Allah swt dan kebajikan yang sebesar-besarnya. Mengenai penyelenggaraan peringatan maulid Nabi saw tidak harus tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal, dan tidak pula harus tepat pada hari Senin, sekalipun waktu-waktu tersebut adalah yang paling afdhal.[2] Peringatan bisa diadakan pada hari dan waktu apa saja, bila disebabkan oleh sesuatu hal tidak bisa diadakan tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal atau pada hari Senin. Misalnya, peringatan dapat diadakan pada hari Jum’at, yaitu hari yang oleh agama Islam dinyatakan sebagai hari raya, hari terciptanya bapak manusia sedunia, Nabi Adam as. Diselenggarakannya peringatan maulid Nabi saw pada hari Jum’at mengandung hikmah besar, karena mencakup dua peristiwa sejarah yang maha penting dalam kehidupan umat manusia, yaitu peristiwa terciptanya bapak manusia dan menhormati hari raya yang dinyatakan oleh Nabi dan Rasul terakhir, Nabi Muhammad saw. [1] Surat al-ahzab ayat 56. [2] Seorang penulis Islam,Ustadz Ahmad Jauhari menginginkan agar peringatan maulid Nabi saw tidak hanya berlangsung dalam waktu sehari sja, tetapi berlangsung selama sebulan penuh, agar para ulama memperoleh waktu yang cukup untuk menyebarluaskan nilai-nilai abadi yang terdapat di dalam kehidupan Rasulullah saw.
Kedudukan Ulama # Orang alim adalah lampu Allah di bumi. Maka, barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, dia akan memperoleh cahaya (ilmu) itu. # Kedudukan orang alim bagaikan pohon kurma, engkau menunggu kapan buahnya jatuh kepadamu. # Orang alim lebih utama dari pada orang yang berpuasa, mengerjakan shalat malam (tahajud), dan yang berjihad di jalan Allah. Jika seorang alim meninggal, maka terjadi lubang dalam islam yang tidak tertutupi sehingga datang orang alim lain yang datang kemudian (menggantikannya). # Orang yang (keluar dari rumahnya) mencari ilmu, para malaikat akan mengantar kepergiannya sehingga dia pulang (ke rumahnya). # Orang alim adalah yang mengetahui kemampuan dirinya, dan cukuplah seseorang dikatakan bodoh jika dia tidak mengetahui kemampuan dirinya. # Ketahuilah! Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang memelihara ilmu-Nya, menjaga yang dijaga-Nya, dan memancarkan mata air ilmu-Nya, mereka ini saling berhubungan dengan wilayah (perwalian), saling bertemu dengan kecintaan, minum bersama dengan gelas pemikiran, dan pergi dengan meninggalkan bau yang harum. Mereka tidak dicampuri oleh keraguan, dan tidak pula mereka bersegera dalam mengumpat. Berdasarkan hal itulah, mereka mengukuhkan pembawaan dan akhlak mereka, saling mencintai, dan saling berhubungan di antara sesama mereka. Mereka ini seperti keunggulan benih yang telah dipilih, yang diambil darinya dan dilemparkan. la telah dipisahkan oleh penyaringan dan dibersihkan oleh pembersihan. # Di antara hak seorang guru terhadap muridnya adalah hendaklah si murid tidak terlalu banyak bertanya kepadanya, tidak membebaninya dalam memberikan jawaban, tidak mendesaknya jika dia sedang malas, tidak menyebarkan rahasianya, dan tidak mengumpat seorang pun di sisinya. # Orang yang alim adalah yang mengetahui bahwa apa yang diketahuinya, jika dibandingkan dengan apa yang tidak diketahuinya, sangatlah sedikit. Maka, karena itulah dia menganggap dirinya bodoh. Oleh karena itu, bertambahlah kesungguhannya dalam mencari ilmu karena pengetahuannya akan hal itu. # Kesalahan yang dilakukan seorang alim seperti kapal yang pecah, maka ia tenggelam dan tenggelam pula bersamanya banyak orang. # Jika seorang alim tertawa satu kali, maka dia telah membuang satu ilmu dari dirinya.
Berbicara Kotor Imam Al-Ghazali Riwayat dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karromallahu Wajhah, dari Rasulullah saw, bersabda: “Tuhanku mendidikku, dan Dia mendidik adabku dengan baik.” Kebiasaan berbicara kotor harus segera dihentikan, karena sangat berpengaruh terhadap hati. Secara khusus, lisan merupakan proyektor hati. Setiap kata yang terucap akan membekas di dalam hati dan akan tergores di dalam benaknya. Karenanya, bila lisan berkata dusta, akan terjelma gambaran dusta di dalam hati, dan dengan demikian hati pun akhirnya berkecenderungan melakukan penyimpangan. Demikian pula bila lisan mengobral kata yang tidak berguna, hati pun menjadi pekat dan akhirnya mematikan hati. Tidak mengherankan bila Rasulullah saw sangat memperhatikan ‘ perkara lisan ini. Dalam beberapa hadis beliau bersabda, “Barangsiapa menjaminkan kepadaku dengan menjaga lisan dan kemaluannya, maka aku akan menjaminnya masuk surga.” Suatu ketika beliau ditanya tentang faktor yang banyak menyebabkan orang masuk neraka, Nabi saw menjawab, “Yaitu dua lubang: lisan dan kemaluan.” Sabdanya pula, “Sesungguhnya manusia itu disungkurkan ke dalam neraka hanya lantaran lisannya.”Juga sabdanya, “Barangsiapa diam, maka selamat.” Suatu ketika Mu’adz bin Jabal r.a. bertanya kepada Nabi saw, “Pekerjaan apakah yang paling utama?” Lalu beliau menampakkan lisan dan meletakkan tangan beliau pada lisan, seraya bersabda, ;”Sesungguhnya kebanyakan dosa manusia berpangkal dari lisannya.” Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah berkata baik atau diam.” (H.r. Bukhari Muslim). Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa banyak bicara, maka banyak salahnya, dan barangsiapa banyak salahnya berarti banyak pula dosanya, dan barangsiapa banyak dosanya, maka neraka lebih layak baginya.” (AI-Hadits). Penyakit Lisan Sebenarnya bencana dan penyakit lisan itu ada dua puluh, sebagaimana kami uraikan dalam Al-Ihya’, Bab “Penyakit Lisan”. Namun panjang uraiannya. Anda cukup dengan memahami satu ayat ini: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisik mereka, kecuali bisik-bisik dari orang yang menyuruh memberi sedekah atau berbuat ma’ruf.” (Q.s. An-Nisa’: 114). Maknanya, Anda jangan bicara kecuali memiliki arti bagi diri Anda. Anda cukup membatasi yang penting-penting saja. Itu akan menyelamatkan. Anas r.a. berkata, “Seorang pemuda mati syahid di Perang Uhud, sedang di perutnya ada batu yang mengganjal karena lapar. Kemudian ibunya mengusap debu yang ada di wajahnya sambil berkata, ‘Nikmatilah surga, anakku!’ Lalu Rasulullah saw bersabda, ‘Dan apa yang menunjukkan kamu, kalau ia bicara tidak pada tempatnya, dan melarang sesuatu yang tidak membahayakannya’.” Batasan bicara yang tidak berarti, apabila pembicaraan itu ditinggalkan, maka tidak menghilangkan pahala, dan tidak membuatnya bahaya. Kalau seseorang membatasi hal demikian, akan sedikit bicara. Seorang hamba seharusnya mengoreksi diri atas semua yang tiada berarti baginya. Dzikir kepada Allah swt. tentunya akan menjadi pengganti lebih baik, karena dzikir termasuk simpanan kebahagiaan. Masuk akalkah apabila harta terpendam dibiarkan, lantas memilih lumpurnya? Dalam hal ini pun, jika pembicaraannya tidak mengandung dosa. Kalau mengandung dosa, berarti la meninggalkan harta terpendamnya, lalu mengambil api neraka. Termasuk omongan yang tidak berarti adalah cerita-cerita soal wisata, ragam menu makanan luar negeri, kebiasaan-kebiasaan mereka, perilaku manusia, soal industri dan perdagangan. Semua itu merupakan obyek yang membuat manusia asyik di dalamnya. Barangkali Anda ingin tahu sebagian penyakit tersebut. Dari dua puluh macam penyakit lisan, tersimpul pada lima macam penyakit: dusta, ghibah (menggunjing), berdebat secara konfrontatif, senda gurau dan puj’ian. Pertama: Dusta Rasulullah saw bersabda: “Seorang hamba senantiasa dusta, dan terus-menerus dusta, sampai ia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” Sabdanya pula, “Celakalah orang yang bercakap-cakap, kemudian berdusta, agar menimbulkan tawa orang banyak. Sungguh celaka ia ... dan celaka ... “ Suatu ketika Rasulullah saw ditanya oleh seorang sahabat, “Ya Rasulullah, apakah orang yang beriman itu bisa berzina? Apakah orang beriman itu juga mencuri?” Beliau menjawab, “Itu mungkin saja terjadi!” “Kalau berdusta?” tanya sahabat itu lagi. Nabi saw menjawab, “Tidak, sebab yang berdusta itu hanyalah orang-orang yang tidak percaya kepada ayat-ayat Allah. “ Pada suatu kesempatan, dalam keadaan berbaring Rasulullah saw bersabda, “Maukah kalian kuberitahu tentang induk segala dosa besar? Yaitu syirik kepada Allah swt. dan durhaka kepada kedua orangtua.” Kemudian beliau duduk dan bersabda kembali, “Dan ingat pula, berkata dusta.” Sabda beliau pula, “Setiap perilaku telah dicap oleh Allah swt. pada orangMukmin, kecuali khianat dan dusta.” Dusta Darurat. Perlu diketahui, bahwa dusta itu haram dalam segala hal, kecuali karena darurat. Suatu ketika seorang ibu berkata kepada anaknya, “Mari ke sini, nanti kuberi sesuatu!” Lalu Nabi saw bertanya kepada sang ibu itu, “Kalau anak itu nanti datang menemuimu, apa yang akan engkau berikan kepadanya?” Si ibu itu menjawab, “Buah kurma.” Nabi saw berkata lagi, “Ingatlah, bila engkau tidak memenuhinya, engkau dicatat telah berdusta.” Manusia hendaknya menghindari dusta, bahkan dusta dalam khayalan dan bisikan jiwa. Sebab akan tertanam dalam jiwanya lukisan yang bengkok, sampai akhirnya dusta pula mimpi-mimpinya, sehingga rahasia alam malakut tidak terbuka kala tidurnya. Dusta ditolerir, jika dengan bicara jujur justru kita terjerumus pada larangan yang lebih dahsyat daripada dusta. Sebagaimana kita boleh memakan bangkai, bilamana menjauhinya ternyata justru melakukan pelanggaran lain yang lebih dahsyat berupa hilangnya nyawa. Ummu Kaltsum r. a. berkata: “Sesungguhnya Rasulullah saw tidak membolehkan dusta, kecuali dalam tiga hal: (1) Berdusta untuk mendamaikan dua orang yang sedang bersengketa, (2) Pada waktu perang, dan (3) Dusta seorang suami kepada sang istri (demi kebaikan).” Hal ini secara jelas dapat dipahami, bahwa bila rahasia perang diketahui oleh musuh, niscaya dengan mudah mereka akan menyerang dan mengalahkan kita. Begitupun bila semua rahasia perilaku seorang suami diketahui oleh si istri, akan mendatangkan petaka dan bahaya lebih besar daripada bahaya dusta itu sendiri. Demikian pula bila dua orang yang tengah bersengketa yang tidak secepatnya diupayakan ishlah, keduanya - termasuk pula tetangga sekitarnya - akan terus bergelimang dalam dosa dan kedurhakaan. Dan bila ternyata ishlah antara keduanya hanya memungkinkan bila ditempuh dengan jalan berdusta, maka itu lebih utama dilakukan. Demikian dalam hadits. Semakna dengan perkara ini adalah, dusta kita terhadap si zalim yang ingin meraup keuntungan dari harta para tetangga atau orang lain, atau berdusta untuk menutupi rahasia seseorang, atau enggan mengakui kesalahan diri sendiri kepada orang lain karena membeberkan perbuatan dosa, agar hatinya tentram. Atau berdusta kepada sang istri dengan maksud agar cintanya hanya untuk kita. Semua ini adalah jenis jenis perbuatan dusta yang dibolehkan oleh agama, sepanjang untuk kepentingan dan tujuan menangkal bahaya yang lebih dahsyat dari dusta itu sendiri. Tetapi, bila bertujuan untuk menguntungkan kepentingan diri sendiri seperti menimbun kekayaan dan mengejar kedudukan, hukumnya adalah haram. Dan bila Anda terpaksa harus berdusta, usahakan untuk memakai bahasa diplomatis, sehingga tidak terlalu terseret pada kedustaan. Ibrahim bin Adham jika la dicari seseorang di rumahnya, la berpesan kepada pembantu wanitanya, “Katakan saja kepadanya, ‘Carilah dia di masjid’!” Sedangkan Sya’bi membuat garis lingkaran dan menyuruh pembantunya, “Letakkan jari jemarimu di lingkaran itu, dan katakan, ia (Sya’bi) tidak ada di sana!” Sebagian mereka ada yang membuat alasan kepada penguasa, dengan berkata, “Selama aku berpisah denganmu, aku tidak pernah bangkit dari tanah (sakit) kecuali Allah swt. menghendaki.” Di hadapan penguasa mereka ada yang mengingkari apa yang telah dikatakan, “Sesungguhnya Allah mengetahui, aku ‘tidak’ berkata hal itu sedikit pun.” la berdiplomasi dengan mengaburkan kata maa (nafi) yang berarti “tidak”, padahal dimaksudkan, pada arti maa yang bukan nafi. Diplomasi dibolehkan untuk tujuan sepele. Sebab Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang tua dan mengatakan, ‘Kamu akan kami naikkan anak unta,’ atau ‘Suamimu di mataku tampak putih’.” Semua kata-kata itu memberi kesamaran arti yang berbeda dengan makna sebenarnya. Kata-kata itu boleh diucapkan kepada wanita atau anak-anak, untuk menenangkan hatinya. Begitupun orang yang menolak makanan, tidak seyogyanya la berbohong, “Aku tidak berselera,” padahal la berselera. Namun sebaiknya la berdiplomasi. Rasul saw pernah bersabda kepada seorang wanita yang berbicara seperti itu, “Janganlah kamu kumpulkan antara bohong dan rasa lapar!” Kedua: Menggunjing (Ghibah) Tentang menggunjing (ghibah) ini, Allah swt. berfirman: “Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yangsudah meninggal?Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (Q.s. Al-Hujurat: 12). Rasulullah saw bersabda, “Ghibah itu lebih besar dosanya dari pada zina. “ Allah mewahyukan kepada Musa as.: “Barangsiapa meninggal dalam keadaan telah bertobat dari ghibah, maka dia akan menjadi orang terakhir masuk surga. Dan barangsiapa meninggal dalam keadaan melakukan ghibah, maka dia akan menjadi orang pertama masuk neraka.” Rasul saw. bersabda, “Pada malam Isra’, aku melewati suatu kaum yang tengah mencakar-cakar wajah mereka dengan kukunya. Aku bertanya, Apa itu Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Itulah gambaran orang yang suka menggunjing sesama’. “ Ghibah - sebagaimana dijelaskan Rasul saw. - berarti menyebut-nyebut persoalan orang lain yang tidak disukainya, sekalipun hal tersebut benar-benar terjadi, baik menyangkut kekurangannya, pikiran, pakaian, perbuatan, perkataan, rumah, keturunan, kendaraan dan hal-hal yang berkaitan dengan orang tersebut. Bahkan ucapan Anda, “Lengan bajunya lebar,” atau “Ujung bajunya panjang.” Ketika disebut di hadapan Rasul saw, “Betapa lemahnya orang itu,” Rasul saw langsung bersabda, Apakah kalian menggunjingnya?” Dan saat Aisyah r.a. memberikan isyarat dengan tangannya tentang seorang wanita yang pendek, Rasul saw bersabda, “Kamu menggunjingnya?” Ini menunjukkan bahwa ghibah itu tidak hanya terbatas pada ucapan saja, tetapi tidak ada bedanya apakah dengan isyarat tangan, sandi, aba-aba, gerak-gerik, menirukan atau sindiran yang dimengerti. Sebagaimana ucapan Anda, “Sebagian saudara kita atau sahabat kita, begini dan begitu.” Perlu diketahui, ragam gunjingan terburuk yang dilakukan ahli ibadat. Misalnya mereka katakan, “Alhamdulillah, Allah tidak menguji kita, dengan memasuki tempat penguasa untuk mencari dunia.” Atau mereka mengatakan, “Na’udzubillah, dari sedikit rasa malu.” Padahal mereka maksudkan adalah menggunjing orang. Misalnya lagi, “Betapa baiknya perilaku orang tersebut, kalau saja ia tidak diuji dengan ujian sebagaimana kita. Kesabarannya sangat sedikit dalam menghadapi dunia. Semoga Allah memaafkan kita.” Kata-kata ini bertujuan ghibah. Mereka kumpulkan ghibah dan riya’, disamping mereka menampakkan diri sebagai orang saleh yang meninggalkan ghibah. Semuanya merupakan kotoran yang menimpa mereka, dengan menyangka dirinya terbebas dari ghibah. Kadang-kadang, seseorang digunjing, sementara orangyang hadir telah lupa orang tersebut. Lalu, orang itu berucap, “Subhanallah, betapa mengagumkan ini ...!” Orang-orang yang hadir lantas menyimak. Orang ini menggunakan sebutan dzikir (Subhanallah) untuk tujuan kotornya. Ada pula, “Hatiku selalu disibukkan oleh ulah seseorang, semoga Allah memaafkan kami dan juga dia.” Padahal tujuannya bukan mendoakan, tetapi menonjolkan diri. Jika la bermaksud mendoakan, pasti la samarkan doa itu. Kalau la gelisah gara-gara orang tersebut, pasti la sembunyikan cacat dan dosanya. Orang yang mendengarkan gunjingan, terkadang malah ikut kagum karena omongan penggunjing, sehingga menambah semangat pergunjingan. Pendengar adalah termasuk penggunjingnya pula. Demikianlah yang pernah disabdakan Rasulullah saw. Begitu pula, ketika la berucap, “Tinggalkan pergunjingan!” Padahal ia sangat suka dengan gunjingan. Tujuannya sekadar untuk memamerkan wara’nya. Orang tersebut tidak bisa lepas dari dosa gunjingan, sepanjang hatinya tidak membenci pergunjingan. la bisa keluar dari dosa, kalau hatiya membenci pergunjingan, bahkan mengatakan apa yang diucapkan penggunjing itu bohong. Sebab sang penggunjing itu tergolong fasik. Orang Muslim yang digunjing berhak mendapatkan dugaan baik. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan dari sesama Muslim: darah, kehormatan, harta dan berburuksangka kepadanya.” Menggunjing dalam hati juga haram, sebagaimana dalam ucapan. Namun demikian, ada beberapa tempat dimana ghibah boleh dilakukan: 1. Pihak yang dizalimi mengadukan perilaku orang yang menzaliminya kepada penguasa yang berwenang untuk tindakan preventif. Apabila hal tersebut diadukan kepada selain penguasa yang tidak memiliki kemampuan mencegah, maka ghibah tidak boleh. 2. Bicara kepada orang yang dimintai pertolongan untuk mengubah kemungkaran. 3. Mengadukan kepada mufti jika mufti butuh penjelasan persoalan. Sebagaimana pernah dikatakan kepada Hindun, “Sufyan itu sebenarnya laki-laki yang sangat bakhil. la tidak memberi nafkah dan biaya hidup yang cukup.” Semua ini merupakan pengaduan. Hal itu diperkenankan jika ada gunanya. 4. Memperingatkan sesama Muslim atas kejahatan seseorang, dengan indikasi apabila tidak disebutkan kejahatannya, kelak kesaksian dustanya diterima, seperti orang yang menunaikan zakat, menyebut perilaku amil zakat yang berbahaya kepada orang yang terkena ulahnya. 5. Menyebut nama orang yang dikenal itu punya cacat fisik seperti pincang atau matanya kabur. Menyebut dengan nama lain lebih utama. 6. Jika cacat tersebut sudah jelas, dan bila diungkap, pihak yang disebut-sebut tidak marah. Semisal menyebut si banci atau ten¬tang rumah mesum (bordil). Al-Hasan berkata, “Ada tiga golongan tidak termasuk menggunjing, jika menyebut aib mereka, yaitu: Orang yang mengikuti hawa nafsu, orang fasik yang melakukan kefasikan secara terang-¬terangan, dan pemimpin yang menyeleweng.” Ketiga kelompok tersebut secara terang-terangan disebut-sebut masyarakat, dan sebutan itu tidak dibenci oleh ketiga kelompok tersebut. Yang benar menyebut aib si fasik yang bergelimang maksiat, perlu dengan cara yang samar. Makruh menyebutnya secara terang-¬terangan, kecuali karena tuntutan syariat. Terapi Ghibah. Adapun cara menghindarkan diri dari kebiasaan berghibah adalah dengan merenungkan dan mengingat ancaman yang bakal dijatuhkan Allah swt. kepada orang yang suka berghibah. Dalam beberapa hadis beliau bersabda, diantaranya, “Sesungguhnya ghibah itu akan meng¬hanguskan kebaikan seseorang lebih cepat dari jilatan api atas kayu kering.” (Al-Hadis). Dalam suatu hadis juga diungkapkan, bahwa kebaikan orangyang suka menggunjing itu akan dipindahkan kepada buku catatan orang yang digunjing. Sehingga akhirnya dia mendapatkan kebaikan jauh lebih sedikit, sementara ghibah membengkak. Pada akhirnya, amal baiknya habis. Selanjutnya, untuk menghindari ghibah, seseorang perlu merenungi aib dirinya sendiri. Kalau la melihat aibnya, akan disibukkan upaya menerapi diri dan mengabaikan aib orang lain. Akhirnya la merasa dirinya kecil, dan bahaya atas -dirinya itu lebih besar dari pada nilai besar yang dimiliki orang lain. Sebaliknya, jika la tidak merasa mempunyai aib, berarti kebodohan terhadap aib sendiri merupakan aib terbesar. Sejak kapan manusia sunyi dari aib? Andaikata sekalipun la benar-¬benar tidak memiliki aib, la harus bersyukur kepada Allah swt. sebagai ganti dari ghibah. Sebab menggunjing manusia dan memakan bangkai itu termasuk aib terbesar dan harus dijauhi. Kalau ucapannya terlanjur pada ghibah, segera istighfar kepada Allah swt, lantas pergi kepada orang yang digunjing sambil minta maaf, “Saya telah berbuat zalim kepada Anda, maafkan saya!” la harus meminta agar apa yang dilakukan dimaafkan. Kalau la tidak bisa bertemu, la harus banyak memuji, mendoakan serta menyebut kebaikannya. Sehingga ketika sebagian amalnya dipindah ke catatan pihak yang digunjing, masih tersisa amal lain, sebagai tebusan dosa ghibah. Ketiga: Berdebat secara Konfrontatif Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa meninggalkan perdebatan padahal dia adalah benar, maka kelak akan dibangun untuknya kediaman di dalam surga teratas. Dan barangsiapa meninggalkan perdebatan sedang dia memang salah, maka kelak akan dibangun untuknya kediaman di surga bagian bawah.” Demikian itu karena meninggalkan perdebatan bagi pihak yang merasa dirinya benar adalah sangat sulit. Maka, layak sekiranya bila janji pahalanya lebih tinggi daripada mereka yang meninggalkan perdebatan karena memang berada di pihak yang salah. Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seseorang akan mencapai kesempurnaan hakikat iman, kecuali jika dia bersedia meninggalkan debat dan pertentangan, padahal dia benar.” Berdebat atau bersitegang adalah menyanggah pembicaraan orang lain dengan rnengutarakan kekurangan-kekurangannya, baik yang bersifat faktual maupun makna kontekstualnya. Hal ini adakalanya muncul oleh adanya perasaan bahwa dirinya lebih unggul daripada yang lainnya. Ada kalanya, karena kebodohannya ataupun kekerasan hati dari salah satu pihak, yang menjadi wataknya yang cenderung destruktif kepada orang lain. Orang yang melakukan debat kusir memiliki potensi sikap kotor yang bisa membinasakan. Bila kita mendengar pembicaraan orang lain, sebaiknya kita ambil yang benar, dan diam saja jika salah. Boleh kita mengutarakan kekurangan pembicaraan seseorang jika ternyata sangat mengandung manfaat keagamaan. la perlu menyimak dan mengoreksi secara bijak dan lembut. Bukan dengan cara yang kasar. Keempat: Bersenda-Gurau Bergurau melampaui batas dapat menimbulkan gelak tawa secara berlebihan, akhirnya mematikan hati, menimbulkan permusuhan, perselisihan, perpecahan dan juga menjatuhkan wibawa serta harga diri seseorang. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya orang yang berbicara untuk ditertawakan oleh para pemirsanya, maka ia akan jatuh terhina melebihi jatuhnya dari bintang Tsuraya.” Kelima: Pujian Memuji ternyata telah menjadi kebiasaan para pembesar dan penguasa yang menjadi budak dunia. Begitu para pembuat kisah dan juru bicara, mereka memuji para hadirin, khususnya para hartawan. Padahal pujian itu mengandung enam bencana. Empat bencana bagi pemuji dan dua untuk yang dipuji. 1. Seringkali pujian tersebut dilakukan secara berlebih-lebihan, bahkan akhirnya menjurus pada dusta, karena tidak sesuai dengan kenyataan. 2. Berpura-pura senang kepada orang yang dipuji, padahal sebenarnya tidaklah demikian. Hal ini jelas menjurus pada sifat munafik dan riya’. 3. Seringkali mengatakan sesuatu secara tidak obyektif dan omong kosong. Misalnya, mengatakan dia itu orang yang adil, dan dia itu wara’, padahal kenyataannya tidak. Seseorang pernah memuji orang lain di hadapan Rasulullah saw. Lalu Rasul saw bersabda, “Celaka Anda!Anda telah memenggal leher teman Anda! Apabila di antara kalian memuji saudaranya, sebaiknya mengatakan, Aku menghargai Fulan, dan aku tidak menganggap seorang pun bersih di sisi Allah.’ Yang berhak dihargai hanya Allah, jika memang demikian.” 4. Dapat menjadikan pihak yang dipuji itu merasa bangga dan besar kepala. Padahal bisa jadi orang yang dipuji itu adalah orang zalim, yang membuatnya semakin senang atas kedurhakaan dan kefasikannya. Sedangkan Rasulullah saw sendiri telah bersabda:“Sesungguhnya Allah sangat murka bila ada orang fasik dipuji¬-puji.” (A1-Hadis). Al-Hasan berkata, “Barangsiapa mendoakan panjang umur bagi orang fasik, maka berarti senang bila Allah selalu didurhakai.” Orang zalim yang fasik berhak dicaci agar kegemarannya berbuat zalim berhenti. Adapun bencana yang terkait dengan si penerima pujian itu meliputi dua hal: 1. Kemungkinan dia akan menjadi takabur dan ta’ajjub, yang keduanya dapat membinasakan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw terhadap orang yang suka melontarkan pujian kepada orang lain, “Berarti engkau telah memenggal batang lehernya.” 2. Bisa jadi dia bangga dan lupa amalnya, dan merasa dirinya sudah cukup. Tidak mengherankan bila Nabi saw bersabda, “Bila seseorang berjalan menemui sesama dengan membawa pisau yang tajam (meng¬kritik secara tajam), adalah lebih baik daripada ia memujinya di hadapannya secara langsung.” Demikianlah, bila suatu pujian itu telah terhindar dari unsur-unsur yang berdampak negatif seperti di atas - baik menyangkut diri si pemuji atau yang dipuji - maka pujian boleh dilakukan, bahkan terkadang dianjurkan. Sebab, dalam beberapa kesempatan, Rasulullah saw juga sering memberikan pujian dan sanjungan kepada para saha¬bat, bilamana menurut beliau justru akan semakin menambah semangat kerja dan daya juang mereka, bukannya semakin membuat mereka sombong. Misalnya, beliau memuji Abu Bakar r.a,’Andaikata kualitas keimanan Abu Bakar dan manusia sejagad ditimbang, tentu akan lebih berat kualitas keimanan Abu Bakar.” Tentang Umar bin Khaththab r.a, beliau bersabda, ‘Andaikata aku belum diutus, tentu engkau Umar yang akan diutus menjadi Rasul.” Bagi pihak yang dipuji, sebaiknya merenungkan dampak akhirnya, bahaya riya’ yang tersembunyi dan berbagai bencana amal perbuatan. la pun harus menyadari, adanya keburukan batinnya, terutama yang berkecamuk dalam nafsu dan pikirannya; seandainya pemuji tahu, pasti tidak memuji seperti itu. Demikian pula, pihak yang disanjung harus menampakkan sikap kurang senang bila disanjung, secara lahir dan batin. Sebagaimana isyarat Rasulullah saw dalam sabda beliau, “Hamburkanlah pada wajah orang yang suka menyanjung.” Sebagian sufi, berdoa ketika dipuji, “Ya Allah, sungguh hamba¬Mu ini lebih layak pada murka-Mu dan aku bersaksi kepada-Mu atas kelayakan murka itu.” Bila memungkinkan, kita dapat meneladani Ali bin Abi Thalib r.a. saat disanjung orang. Beliau biasanya berdoa: “Ya Allah, ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui, dan janganlah Engkau siksa aku dengan apa yang mereka katakan, dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan kepadaku. “
HADIS QUDSI YANG MENCERAHKAN HATI Allah SWT berfirman, "Wahai anak Adam! Harta itu adalah milik-Ku dan kamu adalah hamba-Ku.Tak ada bagimu dari harta-Ku selain apa yang kamu makan lalu sirna,atau kamu pakai lalu lapuk, atau kamu sedekahkan lalu kekal. Dengan demikian, antara kamu dan Aku ada tiga bagian: yang satu milik-Ku,satu lagi milikmu, dan yang satu lagi antara Aku dan kamu. Yang menjadi mil ik-Ku adalah rohmu.Sedangkan yang menjadi milikmu adalah amalmu.Adapun yang ada di antara Aku dan kamu adalah engkau berdoa dan Aku mengabulkan. Wahai anak Adam! Bersikaplah warak! Jadilah orang yang menerima,niscaya kamu akan melihat-Ku. Sembahlah Aku,niscaya kau akan berjalan menuju pada-Ku. Carilah Aku,niscaya kau mendapati-Ku. Wahai anak Adam! Bila engkau seperti penguasa yang masuk neraka karena perbuatan jahat, atau seperti orang Arab karena maksiat, atau ulama karena rasa dengki, atau pedagang karena khianat, atau orang lalim karena perbuatan bodoh mereka, atau ahli ibadah karena riya, atau orang kaya karena sombong, atau orang fakir karena dusta, maka siapa yang menginginkan surga-Ku?"
Cinta Dunia Imam Al-Ghazali Cinta dunia adalah pangkal dari segala dosa. Dunia tidaklah sama dengan harta dan tahta saja. Harta dan tahta hanyalah bagian terkecil dari kehidupan dunia yang amat luas itu. Kehidupan dunia adalah kondisi obyektif Anda sebelum meninggalkan dunia. Sedangkan akhirat adalah kondisi obyektif Anda setelah meninggal. Apa pun isi kehidupan yang Anda hadapi sebelum meninggal, maka itu adalah kehidupan dunia, kecuali ilmu pengetahuan, ma’rifat dan kebebasan. Kehidupan duniawi itu amat variatif. Apa yang ada setelah kematian, juga merupakan wahana kenikmatan, bagi yang memiliki matahati. Tetapi wahana setelah meninggal itu bukanlah dunia, walaupun muncul di dunia. Bagian-bagian duniawi tersebut saling terkait satu sama lain, berkaitan pula dengan upaya perbaikan kerja Anda, yang kembali pada harta-benda yang ada dan bagian Anda di dalamnya, serta kesibukan Anda untuk memperbaikinya. Yang berupa harta-benda (materi) adalah bumi beserta isinya. Allah swt. berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya...” (Q.s. Al-Kahfi: 7). Kepentingan manusia terhadap bumi itu pun bervariasi, bergantung pada sisi bumi itu sendiri. Tanahnya secara umum dimanfaatkan oleh manusia sebagai tempat tinggal dan kebun. Tetumbuhannya sebagai obat dan makanan. Barang tambangnya sebagai sumber devisa, bahan-bahan produksi dan berbagai peralatan. Sedangkan binatang-binatang difungsikan sebagai alat kendaraan dan bahan makanan. Adapun manusia itu sendiri berperan sebagai khalifah Allah yang bertugas memakmurkan bumi dengan melakukan berbagai kebajikan dan mengembangkan keturunan. Semua itu telah terhimpun dalam firman Allah swt.: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak...” (Q.s. Ali Imran: 14). Sedangkan bagian duniawi Anda di muka bumi, telah diungkapkan Al-Qur’an melalui kata “hawa nafsu”. Allah swt. berfirman: “... dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya ...” (Q.s. An-Nazi’at: 40). Kemudian sebagai rincian terhadap ayat tersebut, Allah swt. berfirman pula: “... Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permaianan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak...” (Q.s. Al.-Hadid: 20). Di balik semua itu berbagai ancaman terselubung terhadap batin, berupa kedengkian, kesombongan, riya’, hipokrit, berfoya-foya, cinta dunia dan gila sanjungan. Semua itu adalah dunia batin. Sementara kekayaan fisik adalah dunia lahiriah. Kesibukan Anda untuk memakmurkan dan mengolah dunia melalui industri dan profesi, yang membuat manusia sibuk sehingga lupa diri, lupa prinsip dan kehilangan makna hidup, semata karena kelelapan mereka terhadap kesibukan duniawi itu. Kesibukan itu muncul akibat dua kaitan: ketergantungan hati karena cinta dunianya, dan ketergantungan fisik dengan sibuk mengolahnya. Itulah hakikat dunia, yang -apabila -mencintainya merupakan pangkal dari segala dosa. Padahal dunia diciptakan semata sebagai bekal menuju akhirat. Hanya saja gemerlap dunia itu seringkali membuat orang tersesat sehingga lupa pada tujuan hidupnya sebagai musafir menuju alam akhir. Ibarat pemula yang menunaikan ibadat haji, dia pasti disibukkan dengan segala persiapan dan perbekalan maupun perlengkapan kendaraannya, sehingga akhirnya dia pun tertinggal oleh rombongannya dan gagal menunaikan ibadat haji, malah dimangsa oleh binatang buas di padang pasir. Itulah dunia yang tercela dan yang menghancurkan. Padahal substansinya adalah ladang akhirat. Kehidupan dunia merupakan salah satu fase perjalanan menuju Allah swt. Ia ibarat perumahan yang dibangun di tengah jalan. Di situ segala bekal perjalanan dipersiapkan dan disimpan. Siapa pun yang mempersiapkan dan mengambil bekal perjalanannya di situ sekadar kebutuhan, seperti bekal makanan, pakaian, menikah dan kebutuhan lain, maka la benar-benar menanam tanaman dan akan dipetiknya kelak di akhirat. Tetapi, barangsiapa melebihi batas dalam mengambil bekal dan terlena olehnya, maka dia bakal binasa. Hidup di dunia, ibarat suatu kaum yang mengendarai sebuah kapal. Di suatu pulau, kapal itu berlabuh. Para awak kapal menyuruh penumpang turun untuk melihat-lihat kondisi alam di pulau tersebut dan sekaligus memenuhi hajat yang diperlukan. Akan tetapi, mereka diliputi kekhawatiran tertinggal oleh kapal dan tempatnya diambil alih orang lain. Maka, reaksi mereka pun berbeda-beda satu sama lain. Ada yang segera turun dan memenuhi hajat kebutuhannya, lalu segera kembali ke kapal sehingga mendapatkan tempat yang luas dan masih kosong. Ada yang terlena menyaksikan panorama pulau itu, sehingga terlambat naik ke kapal dan akibatnya dia pun tidak mendapatkan tempat yang cukup luas untuk dirinya berikut buah tangan yang dibawanya. Karenanya, buah tangannya itu terpaksa dipikul di atas bahunya hingga ke tempat tujuan. Dan bahkan ada yang amat terlena hingga masuk ke dalam belantara yang berpanorama sangat indah, terpesona oleh keindahan bunga-bunga, tidak ingat ancaman binatang buas, keganasan alam, dan sebagainya. Ketika tiba di pantai, dia mendapatkan bahwa dirinya ternyata tertinggal seorang diri di tepi pantai. Selang beberapa saat kemudian datanglah binatang buas dan binatang berbisa yang siap memangsanya. Demikianlah ilustrasi kehidupan di alam dunia bila dikaitkan dengan kehidupan akhirat. Cobalah kita renungkan! Orang yang mengenal dirinya sendiri, akan mengenal Tuhannya. Siapa yang mengenal perhiasan dunia dan mengenal akhirat, maka la akan menyaksikan dengan cahaya jiwa, betapa kehidupan dunia itu bertentangan dengan kehidupan akhirat. Salah satunya adalah, bahwa seseorang tidak akan mencapai kebahagiaan di akhirat, kecuali jika menghadap Allah swt. dengan ma’rifat dan mahabbah kepada-Nya. Dan mahabbah tidak akan bisa dicapai, kecuali dengan melanggengkan dzikir. Demikian pula ma’rifat kepada-Nya tidak akan teraih, kecuali dengan terus “mencari” dan “berpikir”. Dan keduanya tidak dapat dilakukan, kecuali menghindarkan diri dari kesibukan duniawi. Sebab, cinta dan ma’rifat kepada Allah tidak akan pernah bersandar di hati, kecuali bila hati itu sendiri terlepas dari rasa cinta kepada selain Allah swt. Dan teosofi seperti ini hanya dapat dihampiri oleh orang-orang yang tergolong ahli bashirah. Jika Anda memiliki matahati (bashirah), Anda adalah ahli rasa (dzauq) dan musyahadah. Bila Anda tidak mungkin seperti mereka, cukuplah Anda menjadi kelompok taqlid dan ahli iman saja. Namun perhatikan peringatan Allah dalam Al-Qur’an dan AsSunnah. Allah swt. berfirman: “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna...” (Q.s. Hud:15). “Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat...” (Q.s. An-Nahl: 107). “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia...” (Q.s. An-Nazi’at: 37-8). Sepertiga dari Al-Qur’an, ayat-ayatnya mengecam dunia dan para pengabdi dunia. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya dunia itu dilaknat, berikut segenap isinya juga dilaknat, kecuali jika disertai untuk tujuan kepada Allah swt.” (Al-Hadits). “Dunia adalah manisan hijau. Dan Allah mengangkat kamu sebagai khalifah di atasnya, dan Dia menyaksikan bagaimana cara kamu bekerja.” (Al-Hadits). “Sesungguhnya Allah tidak menciptakan suatu makhluk yang paling dibenci-Nya, melebihi dunia. Semenjak diciptakan, Dia tidak pernah memandangnya.” (Al-Hadits). Sabdanya pula, “Barangsiapa di waktu paginya menjadikan dunia sebagai cita-cita utama, dia tidak akan mendapatkan apa pun dari Allah swt. Justru Dia akan senantiasa menyiksa hatinya dengan empat perkara: Kesusahan yang tidak ada putus-putusnya, kesibukan yang tiada akhirnya, kemiskinan yang tiada mencapai kekayaannya, dan angan-angan yang tidak akan pernah sampai tujuannya selama-lamanya. “ Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Hai Abu Hurairah, maukah kamu bila kuperlihatkan dunia secara keseluruhan?’Aku menjawab, `Ya.’ Lalu beliau memegang tanganku dan menjulurkannya ke tempat sampah yang di dalamnya terdapat tengkorak kepala manusia, kotoran, kain lusuh dan tulang-belulang. Kemudian beliau bersabda, ‘Hai Abu Hurairah, kepala-kepala (tengkorak) ini adalah ketamakan dan angan-angan manusia, kini ia telah menjadi tulang tanpa kulit dan akan menjadi debu. Sedangkan kotoran ini adalah aneka makanan yang dimakan dan hasil usaha manusia, yang kemudian mereka buang dari perutnya, sehingga mereka saling menjaganya. Dan kain lusuh ini adalah pakaian mereka yang dicerai-beraikan oleh hembusan angin. Sedang tulang-belulang ini adalah tulang-belulang binatang yang mereka cari dan pelihara sampai ke berbagai penjuru. Barangsiapa menangisi dunia, maka menangislah!” Dalam hadits lain beliau bersabda, “Kelak pada hari Kiamat akan datang suatu kaum yang amal perbuatan mereka seperti Gunung Tihamah; tetapi mereka digiring ke neraka.”Para sahabat berkata, “Termasuk orang yang mengerjakan salat wahai Rasulullah?” Nabi saw. menjawab, “Ya, mereka salat, puasa dan bangun di sebagian tengah malam. Dan bila ditawarkan nilai dunia, maka mereka sama-sama bergegas merebutnya.” Nabi Isa as. menegaskan, “Cinta pada dunia dan juga pada akhirat tidak bisa menempati hati seorang Mukmin, seperti air dan api tidak bisa berada pada satu tempat.” Rasulullah saw bersabda, “Waspadalah terhadap dunia, karena lebih dini daripada Malaikat Harut dan Marut.” Nabi Isa as. bersabda, “Wahai Hawariyun, relakanlah dirimu mendekati dunia disertai keselamatan agama, sebagaimana penghuni dunia rela mendekati agama disertai keselamatan dunia.” Diriwayatkan, bahwa Isa as. diperlihatkan substansi dunia dengan gambaran wanita tua yang buruk rupa, walaupun diberi perhiasan macam-macam. Isa as. berkata, “Berapa kali engkau menikah?”Wanita tua itu menjawab, `Aku tidak bisa menghitung suami-suamiku.” Isa as. bertanya lag’, “Mereka menceraikan kamu atau kamu ditinggal mati mereka?” Wanita itu berkata, “Kubunuh semuanya.” Isa as. berkata, “Sungguh mengejutkan sekali, suami-suamimu yang terakhir, mengapa mereka tidak mengambil pelajaran pada suami-suami terdahulu?” Perlu Anda ketahui, orang yang menyangka bahwa memakai pakaian dunia pada badannya, sementara hatinya tetap sunyi dari dunia, berarti orang tersebut tertipu. Sebab Rasulullah saw bersabda, “Perumpamaan orang yang cinta pada dunia ibarat orang yang berjalan di atas air. Dapatkah orang berjalan di atas air, kakinya tidak basah?” (Al-Hadits). Suatu ketika Ali bin Abi Thalib r.a. berkirim surat kepada Salman Al-Farisi r.a, “Dunia itu laksana ular, halus disentuh, tetapi bisanya membahayakan. Berpalinglah dari dunia yang mengagumkan diri Anda, karena Anda bersahabat sedikit dengannya; letakkan segala kegelisahan dunia, karena Anda yakin akan berpisah dengannya; jadilah diri Anda sebagai orang yang senang dengan apa adanya, karena lebih waspada dari bahayanya; sebab, pemilik dunia ketika merasa tentram la akan dikejutkan oleh sesuatu yang dibencinya.” Nabi Isa as. berkata, “Dunia ibarat orang yang minum air laut, semakin banyak semakin terasa haus, sehingga membinasakan diri sendiri.” Ketahuilah, orang yang merasa tentram pada dunia dengan keyakinannya, bahwa la telah lari dari dunia, itu tergolong orang yang sombong. Dunia, bahkan, seperti rumah yang disiapkan pemiliknya, dihiasi untuk menerima tamu-tamu yang datang. Kemudian la memasuki salah satu rumahnya, lalu disodorkan mangkuk emas berisi dupa yang harum, agar la mencium baunya.Dupa itu dibiarkan untuk orang-orang yang menemuinya, tetapi tidak untuk dimiliki. Tetapi, pikirannya bodoh, orang tersebut menyangka dupa dan mangkuk emas itu diberikan kepadanya. Ketika hatinya mulai berhasrat la menuntut, lalu la gelisah dan rakus. Kalau saja la cerdas dan mengetahui pasti la cukup mengambil manfaatnya, dan berterima kasih, lalu mengembalikannya dengan hati yang bersih dan dada yang lapang. Begitu pula Sunnatullah di dunia. Dunia adalah rumah jamuan bagi orang yang lewat. Bahkan rumah para penghuni, agar orang-orang yang lewat memanfaatkan mengambil bekal perjalanan, seperti pemanfaatan barang pinjaman. Kemudian dipindahkan kepada orang berikutnya dengan hati yang lapang tanpa ada ketergantungan hati terhadap apa yang beralih dari tangannya. Bukannya seperti orang yang menyesal ketika dunianya berakhir ke tangan orang lain.
KEDAHSYATAN SHALAWAT AL-FATIH SAYYID MUHAMMAD AL-BAKRIY اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ, نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ . Artinya: “Ya Allah berikanlah shalawat kepada penghulu kami Nabi Muhammad yang membuka apa yang tertutup dan yang menutupi apa-apa yang terdahulu, penolong kebenaran dengan kebenaran yang memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus. Dan kepada keluarganya, sebenar-benar pengagungan padanya dan kedudukan yang agung.” Keutamaan shalawat al-Fatih disebutkan dalam nazham al-Yaqutah al-Faridah: وفضل فريدة على كل صيغة كفضل سُرى القطا على دب نَملة Keutamaan shalawat al-Fatih yang terkenal dengan sebutan al-Yaqutah al-Faridah atas redaksi shalawat lainnya seperti lebih hebatnya burung Qatha berjalan di waktu malam dibandingkan dengan rayapan semut. فما صيغة من الصلاة على النبي تقاربـها في وصلة ومثوبـة Tidak ada bentuk shalawat kepada Nabi yang membandinginya untuk seseorang bisa wushul kepada Allah dan mendapat pahala. فما حد فضلها ولا قيس في الـحجا اذ الفضل من ورا العقول السليمة Keutamaannya tidak bisa dibatasi dan tidak bisa dianalogikan oleh akal. Karena keutamaan yang Allah berikan tidak bisa dipikirkan akal cerdas manusia. وكم صيغ لـها تفوق خرائدا وان شئتها فسل حُـماة الطريقة Shalawat al-Fatih memiliki banyak bentuk redaksi yang lebih mahal dari mutiara berharga. Jika engkau menginginkannya, maka bertanyalah kepada pelindung thariqah. بها انطوت الفلا بأسرع لَمحـة بِها تسبق العرجاء كل صحيحة Keutamaannya dapat melipat tempat yang luas dengan sekejap mata. Dengan membaca shalawat al-Fatih orang yang pincang dapat mendahului berlarinya orang yang sehat. وكم من غنيمة تحاز بذكرها ولا سـيما في الليل بعـد عتيمة Banyak keberuntungan yang dapat diraih dengan membaca shalawat al-Fatih. Terutama apabila dibaca pada malam hari selepas shalalat isya. فتعـدل منها مرة خَمسمائة نَهارية منها لضعف الْمـثوبـة Keutamaan satu kali membacanya di waktu malam seperti 500 kali membacanya di waktu siang lantaran pahala menjadi berlipat ganda. وكم من قصور في جـوار مُحمد وحور حسان والْجـواري وغلمة Banyaknya istana dan berdampingan dengan Nabi Muhammad serta para bidadari yang cantik dan pelayan-pelayan dari wanita dan pria. وكم حجج وعمـرة مع غـزوة وكم من مئين من الـوف عديدة Mendapat pahala haji, umrah dan berperang ratusan dan puluhan kali. واربعمائة سنـــون تكفــر بِمائة مــــرة بليلة جُمعة Seandainya seseorang melakukan dosa sebanyak 400 tahun, maka dosa itu akan diampuni oleh Allah dengan sebab membaca shalawat al-Fatih sebanyak 100 kali pada malam jum’at. لَها من مــراتب ثَمان فبعضها سليل سـعيد باح مـنها بنقطة Keutamaannya memiliki 8 martabat sebagiannya telah diungkap oleh putra said yang bernama Syaikh Umar Ibn Said al-Futiy dengan satu titik. ومنها بـكل مرة سـتمائة من الف صلاة الملأك الانس جِنة Diantaranya: membaca shalawat al-Fatih satu kali sama dengan 600 kali dari ribuan shalawat para malaikat, manusia dan jin. من اول خلقهم الى وقت ذكرها باذن تِجانـي ولـو بوسيطة Dari awal mereka diciptakan sampai waktu shalawat al-fatih diucapkan. Dengan adanya izin dari Sayid Ahmad al-Tijaniy sekalipun dengan perantara. وكم من تضائف لأولى وثانية وثالثة وهـكذا لــلأخيرة Banyak sekali pelipat gandaan pahala dalam membaca shalawat al-Fatih yang pertama, kedua sampai seterusnya. ومنها ضعاف ذكر كل العوالِم بسـتة الآف وغفـران زلـة Pahala yang berlipat sebanding dengan dzikir yang dilakukan oleh makhluk di alam ini dengan 6000 kali lipat dan mendapat ampunan dari segala dosa. فلا تتركن شـاذة من ذنـوبنا ولا فاذة منها لعظم الْمــزية Oleh sebab itu janganlah engkau tinggalkan, lantaran membacanya menghilangkan dosa-dosa kita dan mendapat keutamaan tersendiri dari yang lainnya. وموت على الاسلام افضل نعمة اذا دُمْتَ منها مــرة للمَنِية Wafat dalam agama islam yang merupakan ni’mat tertinggi, apabila engkau melazimi shalawat al-Fatih setiap hari satu kali sampai kematian menjemput. ولا بد من اذن صحيح من احمدا ولـو بوسـائط لنيل الفضيلة Syarathnya adalah mendapat izin dari sayid Ahmad al-Tijaniy sekalipun melalui perantara agar mendapat keutamaannya. مع الاعتقاد انها في صحيفة من النور انزلت بأقـــلام قدرة Disertai keyakinan bahwa shalawat al-Fatih itu datang berupa lembaran dari cahaya yang turun dengan kalamullah وعد الرماح عشرةً من شروطها وقال بكتمها ســوى عن خُويصة Pengarang kitab Rimah Hizb al-Rahim menyebutkan 10 persyaratan. Beliau mengatakan 10 syarat tersebut tidak diketahui kecuali oleh orang-orang khusus. واما ثوابـها العميم فحـاصل لسـائر خلق الله دون شـريطة Pahalanya meratai bagi seluruh ciptaan Allah tanpa 10 syarat. وعن سيدي البكري من عنه انزلت فـداء من الْجـحيم منها بِمَرة Diriwayatkan dari sayid al-Bakriy bahwa shalawat al-fatih diturunkan sebagai tebusan dari neraka jahim sekalipun dibaca sekali. فـوالله ما رأيت ذكـرا مقاربا لـها بعد رُتبة الاسامي العظيمة Demi Allah, aku tidak pernah melihat satu dzikir yang mendekatkan diri kepada Allah yang memiliki tingkatan yang agung seperti shalawat al-Fatih. فلا تفتـرن عنها فتندم في غـدٍ نـدامة كُسْعِي وصاحـب بَتة Janganlah engkau melalaikannya sehingga menyesal dikemudian hari seperti penyesalan seorang yang bernama kusaiy dan seperti orang yang menetapkan keputusannya (al-farazdaq). فعَض عليها بالنـواجـذ سرمدا فتسموا على اقـطاب كل وسيلة Peganglah sekuat-kuatnya dengan gigi gerahammu selamanya, maka engkau akan mendapat derajat menjadi Aqthab dengan segala wasilah. فـلا تعدلـن عنها الى اي صيغة اذا كنت يا أخي من اصحاب نُهية Janganlah engkau pindah kepada bentuk shalawat lainnya, apabila engkau termasuk orang yang cerdas. حوت سر كل صيغة في العوالـم وزادت بأسـرار وأشيا عـزيزة Di dalam shalawat al-Fatih telah mencakup setiap bentuk shalawat yang ada di alam. Dan lebih unggul dengan banyak rahasia serta banyak sesuatu sangat mahal nilainya. ورَبـى بـها عُبيدة بن محـمد وابـدى عجيبة بميـزاب رحمة Keutamaan Shalawat al-Fatih juga dijelaskan oleh syaikh Ubaidah Ibn Muhammad, beliau memunculkan hal-hal ajaib dalam kitabnya yang bernama Mizab al-Rahmah. فيا رب جـازه وكل مؤلِــف بخير واحســان عن الاحمدية Ya Allah, balaslah beliau dengan kebaikan-kebaikan dan berikanlah balasan yang baik kepada setiap pengarang yang mengikuti ajaran Sayid Ahmad al-Tijaniy. dikutip dari risalah: فَوَاتِحُ الْمَفَاتِح فِي اِبْرَازِ اْلأَسْرَارِ مِنْ كُنُوْزِ صَلاَةِ اْلفَاتِح جمع وترتيب الحاج رزقي ذوالقرنين أصمت البتاوي الراجي الى رحمة ربه العزيز القوي غفر الله له ولوالديه عن المساوي آمين