Selasa, 05 Februari 2013
Najis ma'fu (terma'afkan)
===============================================
BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
.....Sangat begitu banyak kita jumpai macam-macam najis setiap hari. Baik itu najis mukhafafah (ringan), mutawasithah (sedang), mughaladzah (berat). Namun semua itu ada yang di ma'fuw (terma'afkan) dan ada yang tidak. Nyok ah....! Kali nh kita intip najis yang di ma'fuw ntu seperti apa..! Kita intip dari pendapat yang termasyhur dulu yaitu dalam kitab "fathul mu'in" karangan Syaikh Al-Allamah Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibary. Kitab standard Ilmu Fiqih.
Najis yang di ma'fuw itu diantaranya :
1. Darah nyamuk dan sebangsanya
ويعقى : عن نحودم برغوت . مما لا نفس له سائله ، كبعوض ، وقمل.
"Najis yang di ampuni (ma'fuw) : Sejenis darah nyamuk, termasuk segala serangga yang darahnya tidak menyiprat, misalnya nyamuk kebon, mrutu, dan kutu."
2. Darah kudis dan sebangsanya
ودم نحو ، دمل، كبثرة، وجرح وعن قيحه وصديده.
"Darah sejenis kudis, misalnya bisul, luka koreng ; demikian pula nanah dan nanah tua dari sejenis kudis."
3. Darah manusia yang sedikit
و عن قليل نحوودم غيره، اى اجنبي غير مغلظ ، بخلاف كثيره.
"Termasuk najis ma'fuw : Sedikit darah orang lain, yang bukan mughaladzoh, lain halnya bila banyak."
4. Sedikit darah haid dan sebangsanya
وعن قليل ، نحودم حيض ورعاف ، كما فى المجموع.
"Termasuk najis ma'fuw : Sedikit darah jenis haid dan darah hidung (mimisan), seperti disebut dalam al-majmu'. (lanjut nomor 5).
5. Darah hidung (mimisan)
ويقاس بهما ، دم سائر المنافذ الا الخارج من معدان النجاسة كمحل الغائط.
"Sekalian darah-darah yang keluar dari lobang-lobang tubuh selain lobang jalan najis misalnya lobang dubur, adalah disamakan hukumnya dengan darah haid dan darah hidung."
6. Darah bekas berbekam
ويعفى عن دم نحو فصد وحجم بحملهما وان كثر.
"Dan darah yang keluar dari jenis tusuk jarum suntik dan berbekam, sekalipun banyak, yang masih tinggal ditempat lukanya adalah diampuni adanya."
7. Gusi yang berdarah
وتصح صلاة من ادمي لثته قبل غسل الفم ، اذالم يبتلع ريقه فيها....
... JERITAN TANGISAN IBLIS ...
Dalam Kitab Al Jami' Liahkam Al Qur'an karya Imam Al Qurthubi dijelaskan bahwa ada 2 hal yang bisa menyebabkan iblis menangis dengan sekeras-kerasnya.
PERTAMA, Ketika diturunkannya Surat Al Fatihah, yang mana surat ini adalah surat yang paling afdhol di dalam Al Qur'an. Jadi dimanapun dan kapanpun surat al fatihah dibaca, iblis laknatullah akan menjerit dan menangis.
KEDUA, Kelahiran Nabi Muhammad SAW, makhluk yang paling mulia sejagad raya. Karena berkat bimbingan Beliau, orang yang sudah memiliki dosa setumpuk gunung bisa terhapus dosanya hanya dengan mengucapkan syahadat saja.
Sebagai contoh saja, pada jaman Rasulullah SAW ada orang yang tua renta kisaran berumur 100 tahun lebih mengadu kepada Rasulullah SAW.
"Ya Rasulullah, apakah agamamu bisa menghapuskan dosa-dosa yang telah aku perbuat, yang mana dosaku setumpuk gunung, berzina, mabuk, berjudi dan sebagainya dan kalau dikumpulkan akan melebihi dosa orang yang paling banyak dosanya di muka bumi ini," kata orang tua itu.
"Bisa," jawab Rasulullah SAW
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya orang tua itu.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda,
"Ucapkanlah Syahadat."
Kemudian orang tua itu pergi menuju rumahnya.
Selang 3 hari kemudian terdengar kabar kalau orang tua itu meninggal dunia dan Rasulullah SAW pun bersabda,
"Orang tersebut termasuk golongan orang yang masuk surga."
KETIGA, Ucapan salam.
Ternyata ucapan salam dari seorang mukmin pada mukmin lainnya bisa membuat iblis menangis dengan kerasnya.
Hal ini seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra, Ibnu Abbas berkata, "Sesungguhnya iblis yang terkutuk itu akan menangis pada saat seorang mukmin bersalam dan dia (iblis) berkata, "Aduh, celakanya, kedua mukmin itu tidak akan berpisah melainkan akan diampuni dosa-dosanya."
Rasulullah SAW sendiri sangat menekankan ucapan salam bagi seorang mukmin sebelum perkataan lain diucapkan. Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda,
"Barangsiapa yang berbicara sebelum memberi salam, maka janganlah kamu jawab."
Hadits lainnya ada yang mengatakan. Rasulullah SAW bersabda,
"Orang yang berkendaraan hendaklah memberi salam kepada orang yang berjalan kaki, orang yang berjalan kaki hendaklah memberi salam kepada orang yang duduk, dan orang yang sedikit hendaklah memberi salam kepada orang yang banyak."
Itulah 3 hal yang bisa membuat iblis menangis denga keras. Sungguh sangatlah beruntung kita ini dengan lahirnya Nabi Muhammad SAW. "Allohumma Sholli 'Alaa Muhammad..."
Dalil-Dalil Tasawwuf Madzhab kami, Madzhab Imam Syafi'i dan Qoul MadzhabNya.
1. Berikut adalah pendapat para ulama terdahulu yang sholeh tentang tasawwuf.
Imam Nawawi Rahimahullah berkata :
أصول طريق التصوف خمسة: تقوى الله في السر والعلانية. اتباع السنة في الأقوال والأفعال. الإِعراض عن الخلق في الإِقبال والإِدبار. الرضى عن الله في القليل والكثير.الرجوع إِلى الله في السراء والضراء.
Pokok pokok metode ajaran tasawwuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridlo kepada Allah dari pemberianNya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka.
(Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawwuf halaman : 20, Imam Nawawi)
2. Al-'Allamah al-Hafidz Ibnu Hajar al-Haitami berkata :
إياك أن تنتقد على السادة الصوفية : وينبغي للإنسان حيثُ أمكنه عدم الانتقاد على السادة الصوفية نفعنا الله بمعارفهم، وأفاض علينا بواسطة مَحبتَّنا لهم ما أفاض على خواصِّهم، ونظمنا في سلك أتباعهم، ومَنَّ علينا بسوابغ عوارفهم، أنْ يُسَلِّم لهم أحوالهم ما وجد لهم محملاً صحيحاً يُخْرِجهم عن ارتكاب المحرم، وقد شاهدنا من بالغ في الانتقاد عليهم، مع نوع تصعب فابتلاه الله بالانحطاط عن مرتبته وأزال عنه عوائد لطفه وأسرار حضرته، ثم أذاقه الهوان والذلِّة وردَّه إلى أسفل سافلين وابتلاه بكل علَّة ومحنة، فنعوذ بك اللهم من هذه القواصم المُرْهِقات والبواتر المهلكات، ونسألك أن تنظمنا في سلكهم القوي المتين، وأن تَمنَّ علينا بما مَننتَ عليهم حتى نكون من العارفين والأئمة المجتهدين إنك على كل شيء قدير وبالإجابة جدير.
Berhati hatilah kamu dari menentang para ulama sufi. Dan sebaiknya bagi manusia sebisa mungkin untuk tidak menentang para ulama sufi, semoga Allah member manfaat kepada kita dgn ma’rifat. Ma’rifat mereka dan melimpahkan apa yg Allah limpahkan kepada orang-orang khususnya dgn perantara kecintaan kami pada mereka, menetapkan kita pada jalan pengikut mereka dan mencurahkan kita curahan curahan ilmu ma’rifat mereka.
Hendaknya manusia menyerahkan apa yang mereka lihat dari keadaan para ulama shufi dengan kemungkinan kemungkinan baik yang dapat mengeluarkan mereka dari melakukan perbuatan haram.
Kami sungguh telah menyaksikan orang yang sangat menentang ulama shufi, mereka para penentang itu mendapatkan ujian dari Allah dengan pencabutan derajatnya, dan Allah menghilangkan curahan kelembutanNya dan rahasia rahasia kehadiranNya. Kemudian Allah menimpakan para penentang itu dengan kehinaan dan kerendahan dan mengembalikan mereka pada derajat terendah. Allah telah menguji mereka dengan semua penyakit dan cobaan.
Maka kami berlindung kepadaMu ya Allah dari hantaman hantaman yang kami tidak sanggup menahannya dan dari tuduhan tuduhan yang membinasakan. Dan kami memohon agar Engkau menetapi kami jalan mereka yang kuat, dan Engkau anugerahkan kami apa yang telah Engkau anugerahkan pada mereka sehingga kami menjadi orang yang mengenal Allah dan imam yang mujtahid, sesungguhnya Engkau maha Mampu atas segala sesuatu dan maha layak untuk mengabulkan permohonan.
(Al-Fatawa Al-Haditsiyyah : 113, karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami)
3. Imam Al-Hafidz Abu Nu’aim Al-Ashfihani berkata :
أما بعد أحسن الله توفيقك فقد استعنت بالله عز وجل وأجبتك الى ما ابتغيت من جمع كتاب يتضمن أسامي جماعة وبعض أحاديثهم وكلامهم من أعلام المتحققين من المتصوفة وأئمتهم وترتيب طبقاتهم من النساك من قرن الصحابة والتابعين وتابعيهم ومن بعدهم ممن عرف الأدلة والحقائق وباشر الأحوال والطرائق وساكن الرياض والحدائق وفارق العوارض والعلائق وتبرأ من المتنطعين والمتعمقين ومن أهل الدعاوى من المتسوفين ومن الكسالى والمتثبطين المتشبهين بهم في اللباس والمقال والمخالفين لهم في العقيدة والفعال وذلك لما بلغك من بسط لساننا ولسان أهل الفقه والآثار في كل القطر والأمصار في المنتسبين إليهم من الفسقة الفجار والمباحية والحلولية الكفار وليس ما حل بالكذبة من الوقيعة والإنكار بقادح في منقبة البررة الأخيار وواضع من درجة الصفوة الأبرار بل في إظهار البراءة من الكذابين , والنكير على الخونة الباطلين نزاهة للصادقين ورفعة للمتحققين ولو لم نكشف عن مخازي المبطلين ومساويهم ديانة , للزمنا إبانتها وإشاعتها حمية وصيانة , إذ لأسلافنا في التصوف العلم المنشور والصيت والذكر المشهور
Selanjutnya, semoga Allah memperbagus taufiqmu. Maka sungguh aku telah memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dan menjawabmu atas apa yang engkau mau dari pengumpulan kitab yang mengandung nama nama kelompok dan sebagian hadits dan ucapan mereka dari ulama hakikat dari orang orang ahli tasawwuf.
para imam dari mereka.
Penertiban tingkatan mereka dari orang orang ahli ibadah sejak zaman sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in dan setelahnya dari orang yang memahami dalil dan hakikat. Menjalankan hal ihwal serta thariqah.
bertempat di taman (ketenangan) dan meninggalkan ketergantungan.
Berlepas dari orang orang yang berlebihan dan orang orang yang mengaku ngaku orang orang yang berandai andai dan dari orang orang yang malas yang menyerupai mereka di dalam pakaian dan ucapan dan bertentangan pada mereka di dalam aqidah dan perbuatan.
Demikian itu ketika sampai padamu dari pemaparan lisan kami dan lisan ulama fiqih dan hadits di setiap daerah dan masa tentang orang orang yang menisabatkan diri pada mereka adalah orang orang fasiq, fajir, suka mudah berkata mubah dan halal lagi kufur. Bukanlah menghalalkan dengan kedustaan, umpatan dan pengingkaran dengan celaan di dalam manaqib orang orang baik pilihan dan perendahan dari derajat orang orang suci lagi baik.
Akan tetapi di dalam menampakkan pelepasan diri dari orang orang pendusta dan pengingkaran atas orang orang pengkhianat, bathil sebagai penyucian bagi orang orang jujur dan keluhuran bagi orang orang ahli hakikat.
Seandainya kami tidak menyingkap kehinaan dan keburukan orang orang yang mengingkari tasawwuf itu sebagai bagian dari agama, maka kami pasti akan menjelaskan dan mengupasnya sebagai penjagaan, karena salaf kami di dalam ilmu tasawwuf memiliki ilmu yang sudah tersebar dan nama yang masyhur.
(Muqoddimah Hilyah Al-Awliya, karya imam Al-Ashfihani)
4. Al-Imam Al-Allamah Syaikhul Islam Tajuddin As-Subuki berkata :
حَيَّاهمُ الله وبيَّاهم وجمعنا في الجنة نحن وإِياهم. وقد تشعبت الأقوال فيهم تشعباً ناشئاً عن الجهل بحقيقتهم لكثرة المُتلبِّسين بها، بحيث قال الشيخ أبو محمد الجويني لا يصح الوقف عليهم لأنه لا حدَّ لهم. والصحيح صحته، وأنهم المعرضون عن الدنيا المشتغلون في أغلب الأوقات بالعبادة.. ثم تحدث عن تعاريف التصوف إِلى أن قال: والحاصل أنهم أهل الله وخاصته الذين ترتجى الرحمة بذكرهم، ويُستنزل الغيث بدعائهم، فرضي الله عنهم وعنَّا بهم
Semoga Allah memanjangkan hidup para penganut tasawwuf dan mengangkat derajat mereka serta mengumpulkan kita dan mereka di surga. Sungguh telah banyak pendapat miring tentang mereka yang bersumber dari kejahilan akan hakekat mereka disebabkan oknum-oknum yang membuat samar ajaran tasawwuf. Oleh karenanya syaikh Abu Muhammad Al-Juwaini berkata “ Tidak boleh berhenti dalam mendefiniskan mereka, sebab mereka tak memiliki batasan istilah. Yang benar adalah keabsahannya dan definisi shufiyyah adalah orang-orang yang berpaling dari dunia yang menyibukkan diri disebagian besar waktunya dengan beribadah. Kemudian bermunculanlah ta’rif-ta’rif baru tentang tasawwuf..(sampai ucapan beliau) : “..Kesimpulannya ulama tasawwuf adalah keluarga dan orang-orang khusus Allah yang diharapan turunnya rahmat dengan menyebut nama mereka dan turunnya hujan dengan perantara doa mereka. Maka semoga Allah meridhoi mereka dan kita semua dengan sebab mereka.
(Mu’idun Ni’am wa Mubidun Niqam halaman : 140, karya imam Subuki)
5. Al-Imam Al-Allamah Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi berkata :
اعلم وفقني الله وإياك أن علم التصوف في نفسه علم شريف رفيع قدره سني أمره ، لم تزل أئمة الإسلام وهداة الأنام قديماً وحديثاً يرفعون مناره وَيُجِلُّون مقداره ويعظمون أصحابه ويعتقدون أربابه ، فإنهم أولياء الله وخاصته من خلقه بعد أنبيائه ورسله ، غير أنه دخل فيهم قديماً وحديثاً دخيل تشبهوا بهم وليسوا منهم وتكلموا بغير علم وتحقيق فزلوا وصلوا وأضلوا ، فمنهم من اقتصر على الاسم وتوسل بذلك إلى حطام الدنيا ، ومنهم من لم يتحقق فقال بالحلول وما شابهه فأدى ذلك إلى إساءة الظن بالجميع ، وقد نبه المعتبرون منهم على هذا الخطب الجليل ونصوا على أن هذه الأمور السيئة من ذلك الدخيل.
Ketahuilah, semoga Allah memberikan taufiq-Nya padaku dan kamu, sesungguhnya ilmu tasawwuf itu sendiri adalah ilmu yang mulia, tinggi derajatnya dan luhur urusannya. Para imam Islam dan para ulama penunjuk manusia sejak dulu hingga sekarang selalu mengangkat lambangnya, meninggikan martabatnya dan mengangungkan para pemeluknya dan meyakini kemulian ahlinya. Karena mereka adalah para wali Allah Swt dan orang-orang khusus-Nya dari makhluk-Nya setelah para nabi dan rasul-Nya, akan tetapi masuklah sesuatu yang asing sejak dulu hingga sekarang yang menyerupai penganut tasawwuf padahal sama sekali mereka bukanlah dari ahli tasawwuf. Mereka berbicara tanpa ilmu dan mengerti hakikat, sehingga mereka tergelincir, sesat dan menyesatkan. Di antara mereka ada yang mencukupkan saja dengan nama dan menjadikan perantara untuk mengambil keuntungan dunia. Di antara mereka ada yang belum mencapai hakikat sehingga mereka berucap dengan hulul dan semisalnya, sehingga itu semua membuat munculnya buruk sangka terhadap semua ajaran tasawwuf. Sungguh para pengambil pelajaran dari mereka telah member peringatan atas nasehat mulia ini dan menetapkan bahwa semua perkara buruk ini muncul dari sesuatu yang asing (di luar tasawwuf) tersebut.
(Ta’yidul Haqiqah al-‘Aliyyah Wa Tasyiduth Thariqoth asy-Syadziliyyah halaman : 7, karya imam as-Suyuthi)
5. Al-Imam Al-Allamah Al-Mufassir Fakhruddin Ar-Razi berkata :
الباب الثامن في أحوال الصوفية:اعلم أن أكثر مَنْ حَصَرَ فرق الأمة، لم يذكر الصوفية وذلك خطأ، لأن حاصل قول الصوفية أن الطريق إِلى معرفة الله تعالى هو التصفية والتجرد من العلائق البدنية، وهذا طريق حسن.. وقال أيضاً: والمتصوفة قوم يشتغلون بالفكر وتجرد النفس عن العلائق الجسمانية، ويجتهدون ألاَّ يخلو سرَّهم وبالَهم عن ذكر الله تعالى في سائر تصرفاتهم وأعمالهم، منطبعون على كمال الأدب مع الله عز وجل، وهؤلاء هم خير فرق الآدميين
Tentang keadaan-keadaan ahli tasawwuf. Ketahuilah, sesungguhnya kebanyakan orang yang menghitung pembagian golongan umat tidak menyebut golongan ahli tasawwuf dan hal itu salah, karena keseluruhan ucapan ahli tasawwuf adalah sesungguhnya jalan menuju pengenalan kepada Allah Ta’ala adalah Tashfiyyah (penyucian) dan membersihkan diri dari ketergantungan badan, dan jalan ini merupakan jalan yang baik. Beliau juga berkata “ Kaum shufi adalah orang-orang yang menyibukkan diri dengan tafakkur dan membersihkan jiwa dari ketergantungan jasmaniyah, berusaha keras agar hati mereka tidak kosong dari mengingat Allah Ta’ala di dalam gerak-gerik mereka, selalu berpegang dengan kesempurnaan adab bersama Allah, dan merekalah paling baiknya golongan anak manusia.
(I’tiqadaat firaqil Muslimin wal musyrikin halaman : 72-73, Karya imam Fakhruddin Ar-Razi)
6. Al-Imam Al-Allamah Al-Hafidz Abdu Rauf al-Manawi berkata :
وإني كنت قبل أن يكتب الشباب خط العذار , أردد ناظري في أخبار الأولياء الأخيار , وأتتبع مواقع إشارات حكم الصوفية الأبرار , وأترقب أحوالهم وأسبر أقوالهم ... حتى حصلت من ذلك على فوائد عاليات , وحكم شامخات ساميات فألهمت أن أقيد ما وقفت عليه في ورقات , وأن أجعله في ضمن التراجم , كما فعله بعض الأعاظم الأثبات , فأنزلت الصوفية في طبقات , وضربت لهم في هذا المجموع سرادقات , ورتبتهم على حروف المعجم عشر طبقات , كل مائة سنة طبقة , وجمعتهم كواكب كلها معالم للهدي , ومصابيح للدجى , ورجوم للمسترقة
Sesungguhnya aku sebelum seorang pemuda dicatat akan catatan alasannya, ingin mencermati kisah-kisah para wali Allah yang terpilih, aku telusuri isyarat-isyarat hokum ahli shufi yang baik dan aku selidiki keadaan-keadaan mereka dan aku kuak ucapan-ucapan mereka hingga aku mendapatkan beberapa faedah yang tinggi sebab itu dan hikmah-hikmah berbobot nan luhur. Lalu aku mendapatkan ilham agar mencatat apa yang aku dalami itu pada sebuah buku, dan agar aku buat isi biografi perjalanan mereka sebagaimana telah dilakukan sebagian besar ulama. Maka aku posisikan ulama shufi dalam beberapa tingkatan dan ku beberkan beberapa tenda dalam kumpulan ini. Aku tertibkan nama mereka menjadi sepuluh tingkatan. Setiap seratus tahun satu tingkatan dan aku kumpulkan bintang-bintang seluruhnya bagaikan petunjuk bagi kebenaran dan penerang bagi kegelapan serta panah api bagi si pencuri.
(Al-Kawaiku Ad-Durriyyah fii Tarajimi ash-Shufiyyah halaman : 3-4, karya imam Abdur Raouf al-Manawi)
8. Al-Imam Al-Kabir Syaikh Abdul Qahir Al-Baghdadi berkata :
الفصل الأول من فصول هذا الباب في بيان أصناف أهل السنة والجماعة. اعلموا أسعدكم الله أن أهل السنة والجماعة ثمانية أصناف من الناس... والصنف السادس منهم: الزهاد الصوفية الذين أبصروا فأقصروا، واختَبروا فاعتبروا، ورضوا بالمقدور وقنعوا بالميسور، وعلموا أن السمع والبصر والفؤاد كل أُولئك مسؤول عن الخير والشر، ومحاسب على مثاقيل الذر، فأعدُّوا خير الإِعداد ليوم المعاد، وجرى كلامهم في طريقَيْ العبارة والإِشارة على سَمْتِ أهل الحديث دون من يشتري لهو الحديث، لا يعملون الخير رياء، ولا يتركونه حياء، دينُهم التوحيد ونفي التشبيه، ومذهبهم التفويضُ إِلى الله تعالى، والتوكلُ عليه والتسليمُ لأمره، والقناعةُ بما رزقوا، والإِعراضُ عن الاعتراض عليه. {ذلكَ فضلُ اللهِ يؤتِيهِ مَنْ يشاءُ واللهُ ذو الفضلِ العظيمِ
Fasal pertama dari fasal-fasal bab ini, tentang penjelasan kelompok-kelompok Ahlus sunnah waljama’ah. Ketahuilah, semoga Allah membuat kalian bahagia, sesungguhnya Ahlus sunnah waljama’ah ada delapan kelompok manusia..(hingga ucapan beliau).. Kelompok ke enam di anatara mereka adalah orang-orang yang zuhud dan ahlis shufi yang mereka memandang dengan mata hati hingga mereka bisa berlaku sederhana, mereka mendapat ujian dan mereka mengambil pelajarannya. Mereka ridha dengan ketentuan dan legowo dengan hal yang ringan. Mereka ahli shufi mengetahui bahwa pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan dimintai pertangung jawabannya dari kebaikan atau keburukan dan akan dihisab walau seberat biji atom pun. Maka mereke mempersiapkan diri dengan sebaik-baik bekal untuk hari kembali kelak dan ucapan mereka berjalan di dalam dua jalan ibarat dan isyarat berdasarkan karakter ahli hadits bukan orang yang menjual permainan hadits. Mereka beramal kebaikan tidak dengan pamer dan tidak meninggalkan kebaikan karena malu. Agama mereka Tauhid dan meniadakan Tasybih (penyerupaan) dan mazdhab mereka Tafwidh (menyerahkan makna) kepada Allah Swt, tawakkal dan penyerahan diri kepada perintah Allah. Qonaah terhadap rezeki yang mereka dapat dan berpaling dari mengeluh atas-Nya. Itulah keutamaan Allah yang Allah berikan pada orang yang dikehendaki-Nya dan Allah maha memiliki keutamaan yang agung.
(Al-Farq bainal Firaq halaman : 236)
9. Al-Imam Hujjatul Islam Al-Ghozali berkata :
ولقد علمت يقيناً أن الصوفية هم السالكون لطريق الله تعالى خاصة وأن سيرتهم أحسن السيرة، وطريقتهم أصوب الطرق، وأخلاقهم أزكى الأخلاق.. ثم يقول رداً على من أنكر على الصوفية وتهجَّم عليهم: وبالجملة فماذا يقول القائلون في طريقةٍ طهارتُها - وهي أول شروطها - تطهيرُ القلب بالكلية عما سوى الله تعالى، ومفتاحها الجاري منها مجرى التحريم من الصلاة استغراقُ القلب بالكلية بذكر الله، وآخرها الفناء بالكلية في الله
Sungguh aku telah mengetahui secara yakin bahwa ahli tasawwuf mereka adalah orang yang menapaki jalan Allah Ta’ala secara khusus, sejarah hidup mereka sebaik-sebaik sejarah. Jalan mereka paling benarnya jalan. Akhlak mereka sesuci-sucinya akhlak. (kemudian beliau berkata sebagai jawaban pada orang yang mengingkari ahli tasawwuf) Kesimpulannya, apa yang akan dikatakan para penentang mereka di dalam metode pembersihan ajaran tasawwuf ? sedangkan itu merupakan syarat pertama yaitu membersihkan hati secara keseluruhan dari selain Allah Ta’ala dan kuncinya yang berlaku darinya seperti berlakunya takbiratul ihram saat sholat yaitu tenggelamnya hati secara keseluruhan dengan mengingat Allah dan akhirnya adalah fana secara keseluruhan di dalam Allah Swt.
(Al-Munqidz minadh Dholal : 17, karya imam Ghozali)
10. Al-Imam Al-Hafidz Abu Nu’aim Al-Ashfihani berkata :
أما بعد أحسن الله توفيقك فقد استعنت بالله عز وجل وأجبتك الى ما ابتغيت من جمع كتاب يتضمن أسامي جماعة وبعض أحاديثهم وكلامهم من أعلام المتحققين من المتصوفة وأئمتهم وترتيب طبقاتهم من النساك من قرن الصحابة والتابعين وتابعيهم ومن بعدهم ممن عرف الأدلة والحقائق وباشر الأحوال والطرائق وساكن الرياض والحدائق وفارق العوارض والعلائق وتبرأ من المتنطعين والمتعمقين ومن أهل الدعاوى من المتسوفين ومن الكسالى والمتثبطين المتشبهين بهم في اللباس والمقال والمخالفين لهم في العقيدة والفعال وذلك لما بلغك من بسط لساننا ولسان أهل الفقه والآثار في كل القطر والأمصار في المنتسبين إليهم من الفسقة الفجار والمباحية والحلولية الكفار وليس ما حل بالكذبة من الوقيعة والإنكار بقادح في منقبة البررة الأخيار وواضع من درجة الصفوة الأبرار بل في إظهار البراءة من الكذابين , والنكير على الخونة الباطلين نزاهة للصادقين ورفعة للمتحققين ولو لم نكشف عن مخازي المبطلين ومساويهم ديانة , للزمنا إبانتها وإشاعتها حمية وصيانة , إذ لأسلافنا في التصوف العلم المنشور والصيت والذكر المشهور
Selanjutnya, semoga Allah memperbagus taufiqmu, maka sungguh aku telah memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dan menjawabmu atas apa yang engkau mau dari pengumpulan kitab yang mengandung nama-nama kelompok dan sebagian hadits dan ucapan mereka dari ulama hakikat dari orang-orang ahli tasawwuf, para imam dari mereka, penertiban tingkatan mereka dari orang-orang ahli ibadah sejak zaman sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in dan setelahnya dari orang yang memahami dalil dan hakikat. Menjalankan hal ihwal serta thariqah, bertempat di taman (ketenangan) dan meninggalkan ketergantungan. Berlepas dari orang-orang yang berlebihan dan orang-orang yang mengaku-ngaku, orang-orang yang berandai-andai dan dari orang-orang yang malas yang menyerupai mereka di dalam pakaian dan ucapan dan bertentangan pada mereka di dalam aqidah dan perbuatan. Demikian itu ketika sampai padamu dari pemaparan lisan kami dan lisan ulama fiqih dan hadits di setiap daerah dan masa tentang orang-orang yang menisabatkan diri pada mereka adalah orang-orang fasiq, fajir, suka mudah berkata mubah dan halal lagi kufur. Bukanlah menghalalkan dengan kedustaan, umpatan dan pengingkaran dengan celaan di dalam manaqib orang-orang baik pilihan dan perendahan dari derajat orang-orang suci lagi baik, akan tetapi di dalam menampakkan pelepasan diri dari orang-orang pendusta dan pengingkaran atas orang-orang pengkhianat, bathil sebagai penyucian bagi orang-orang jujur dan keluhuran bagi orang-orang ahli hakikat. Seandainya kami tidak menyingkap kehinaan dan keburukan orang-orang yang mengingkari tasawwuf itu sebagai bagian dari agama, maka kami pasti akan menjelaskan dan mengupasnya sebagai penjagaan, karena salaf kami di dalam ilmu tasawwuf memiliki ilmu yang sudah tersebar dan nama yang masyhur.
(Muqoddimah Hilyah Al-Awliya, karya imam Al-Ashfihani)
11. Al-Imam Al-Kabir Al-Mufassir An-Nadzdzar Abi Al- muzdhaffar Al-Isfirayaini berkata :
في الباب الخامس عشر : في بيان اعتقاد أهل السنة والجماعة وبيان مفاخرهم ومحاسن أحوالهم وسادسها : علم التصوف والإشارات , وما لهم فيها من الدقائق والحقائق , لم يكن قط لأحد من أهل البدعة فيه حظ بل كانوا محرومين مما فيه من الراحة والحلاوة , والسكينة والطمأنينة وقد ذكر أبو عبد الرحمن السلمي من مشايخهم قريبا من ألف ، وجمع إشاراتهم وأحاديثهم ولم يوجد في جملتهم قط من ينسب إلى شيء من بدع القدرية والروافض ، والخوارج ، وكيف يتصور فيهم من هؤلاء وكلامهم يدور على التسليم ، والتفويض والتبري من النفس ، والتوحيد بالخلق والمشيئة ، وأهل البدع ينسبون الفعل ، والمشيئة ، والخلق ، والتقدير إلى أنفسهم ، وذلك بمعزل عما عليه أهل الحقائق من التسليم والتوحيد
Tentang penjelasan aqidah Ahlus sunnah waljama’ah dan penjelasan kebanggaan serta kebaikan hal ihwal mereka. Fasal yang ke- 6 adalah : Ilmu Tasawwuf dan isyarat dan apa yang mereka miliki dari ilmu-ilmu yang lembut dan ilmu hakikat. Yang tidak akan mendapat bagian sedikitpun dari ilmu ini orang-orang ahli bid’ah bahkan mereka terhalang mendapatkan apa yang ada pada ulama tasawwuf dari ketenangan, manisnya ibadah, sakinah dan tuma’ninah. Abu Abdirrahman As-Salmi telah menyebutkan guru-guru mereka hampir mendekati seribu, mengumpulkan isyarat dan hadits mereka namun tak ditemukan satu pun dari mereka orang-orang ahli bid’ah seperti qodariyyah, rowafidh dan khowarij. Bagaimana bisa tergambar pada mereka padahal ucapan ahli tasawwuf berputar pada taslim, tawakkal dan berlepas dari diri. Dan bertauhid dengan akhlak dan keinginan. Sedangkan ahlul bid’ah menisbatkan perbuatan dan keinginan, akhlak dan pennetuan pada diri mereka. Hal ini bertentangan dengan ahli hakikat dari sifat taslim dan tauhid.
(At-Tabshir fiddin halaman : 164, karya imam al-Isfirayaini)
12. Kalam Imam Syafi’i berikut ini dalam bentuk bait syi’ir untuk membungkam hujjah mereka :
فقيهاً وصوفياً فكن ليس واحدا فإنــي وحـق الله إيـاك أنصح, فذلك قاس لم يذق قلبه تقــى وهذا جهول كيف ذو الجهل يصلح
Jadilah kamu seorang ahli fiqih yang bertasawwuf jangan jadi salah satunya, sungguh dengan haq Allah aku menasehatimu.
Jika kamu menjadi ahli fiqih saja, maka hatimu akan keras tak akan merasakan nikmatnya taqwa. Dan jka kamu menjadi yang kedua saja, maka sungguh dia orang teramat bodoh, maka orang bodoh tak akan menjadi baik.
(Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i halaman : 19)
13. Nasihat Imam Asy-Syafi'I Rohimalloh :
فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح
Berusahalah engkau menjadi seorang yg mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawwuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.
Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu.
Orang yag hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawwuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan taqwa.
Sedangkan orang yg hanya menjalani tasawwuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik.
[Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, halaman. 47]
sayang bait dari diwan ini telah dihilangkan oleh wahabi dalam kitab diwan syafi'i yg dicetak oleh percetakan wahabi, sungguh jahat para perampok aqidah. Na'udzu Billahi min dzalik.....
14. Syaikh Abdullah bin As'ad Al-Yafi' Rohmatulloh 'alaih berkata:
ذكرالشيخ عبد اللـه بن أسعد اليافعي رحمة للـه عليه أن الفقيه العلامة قطب اليمن إسماعيل بن محمد الحضرمي ثم اليمني سئل عن تصانيف الغزالي فقال من جملة جوابه: محمد بن عبد اللـه سيد الأنبـياء ومحمد بن إدريس الشافعي سيد الأئمة ومحمد بن محمد بن محمد الغزالي سيد المصنفين.
Syaikh Abdullah bin As'ad Al-Yafi' Rohmatulloh 'alaih berkata: seorang Wali qutub yaman yang faqih adalah Syaikh Isma'il bin Muhammad Al-Had
lromy, kemudian setelah yaman di tanyakan tentang Imam Ghozali, maka di jawab oleh beliau (Syaikh Abdullah bin As'ad Al-Yafi') .
Muhammad bin Abdullah (Rasulullah) adalah Sayyidil anbiya', dan Muhammad bin Idris As-Syafi'i (Imam Syafi'i) adalah Sayyidil Aimmah, dan Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali adalah Sayyidil Mushonnifin.
Keadilan Allah SWT Dalam Membagikan Rezeki
Pada umumnya kita berpikir bahwa Allah SWT itu membagikan rezeki kepada manusia sama rata, "itulah yang adil". Pendapat ini dilontarkan oleh orang2 komunis. Padahal tidak seperti itu. Setidaknya ada empat ayat di dalam al-Quran yg menjelaskan ttg pembagian rezeki:
1. REZEKI TINGKAT PERTAMA (YANG DIJAMIN OLEH ALLAH)
"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya" (QS. Hud/11: 6)
Artinya Allah akan memberikan makan, minum untuk makhluk hidup di dunia ini. Ini adalah rezeki dasar yg terendah, seperti kita lihat orang2 yg tinggal di "pedalaman", mereka bisa tetap hidup tanpa ilmu. Mereka hidup sesuai dengan fitrah manusia yg diberikan oleh Allah. Sama dengan binatang2 dan makhluk Allah lainnya. Mereka tahu mencari makan, tahu berkembang biak, tahu melahirkan anak2nya dan tahu menjaga diri dari mangsanya. Itulah FITRAH DASAR dari Allah.
2. REZEKI TINGKAT KEDUA
"Tidaklah manusia mendapat apa-apa, kecuali apa yg telah dikerjakannya" (QS. 53: 39)
Allah SWT akan memberikan rezeki sesuai dengan apa yg dikerjakan. Jika seseorang bekerja dua jam, dapatlah hasil yg dua jam. Jika kerja lebih lama, lebih rajin, lebih berilmu, lebih sungguh2, ia akan mendapat lebih banyak.
Dengan kata lain, jika seseorang ingin mendapatkan rezeki lebih banyak, ia haruslah belajar lebih banyak dan sungguh2 dalam bekerja. Tidak pandang apakah orang itu beriman atau kafir. Itulah keadilan Allah terhadap makhluk-Nya.
3. REZEKI TINGKAT KETIGA
“... Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim/14: 7)
Inilah rezeki yg disayang Allah. Orang2 yg pandai bersyukur akan dapat merasakan kasih sayang Allah. Sebagai contoh: Org yg pandai berterima kasih atas bantuan orang lain, akan mudah mendapat bantuan lainnya (sebagai tambahan), tapi jika ia tidak pandai berterima kasih atas bantuan yg sudah diterimanya, maka ia tidak akan dapat pertolongan lagi. Hidupnya akan susah lagi. Bukan Allah yg menghendaki, tapi ia sendiri yg tidak pandai bersyukur.
Orang yg pandai bersyukur akan mendapat rezeki yg lebih banyak. Itulah janji Allah! Orang yg pandai bersyukurlah yg dapat hidup bahagia, sejahtera dan tentram. Usahanya akan sangat sukses, karena Allah tambahkan selalu.
4. REZEKI KE EMPAT (UNTUK ORANG2 BERIMAN DAN BERTAQWA)
".... Barangsiapa yg bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yg tiada disangka2nya. Dan barangsiapa yg bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq/65:2-3)
Peringkat rezeki yg ke empat ini adalah rezeki yang istimewa, tidak semua orang bisa meraihnya. Orang istimewa ini (muttaqun) adalah org yg benar2 dicintai dan dipercaya oleh Allah untuk memakmurkan atau mengatur kekayaan Allah di bumi ini.
Banyak pakar mengatakan bahwa rezeki yg tidak terbatas itu didapatkan dgn berwira-usaha, suatu bentuk usaha yg dijalankan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat.
Sekiranya dalam suatu negeri terdapat banyak orang bertaqwa dan orang2 yg sukses berwira usaha, maka negeri itu akan makmur, lapangan kerja terbuka. Inilah janji Allah di dalam al-Qur'an:
"Jikalau sekiranya penduduk negeri2 beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka dari langit dan bumi, tetapi mrk mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya" (QS. al-A'raf/7: 96)
Rezeki yg ke empat ini hanya untuk orang2 yg betul2 bertaqwa kepada Allah SWT. Orang yg bertaqwa ini, di dunia mereka mendapat kemudahan2 atau sukses dari Allah, dan di akirat mereka mendapatkan syurga pula.
"Sesungguhnya orang yang bertaqwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air yg mengalir. (Dan dikatakan kepada mereka): Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman". (QS. al-Hijr/15: 45)
Namun, bagaimanapun:
“Tidak setiap orang yang Kuberi nikmat dan Kulapangkan rezekinya berarti dia Kumuliakan, TIDAK! Dan tidak setiap orang yang Kumiskinkan berarti dia Kuhinakan, TIDAK! Justru yang satu Ku-uji dengan kesenangan, dan yang lain Ku-muliakan dengan cobaan”. (Tafsir QS. Al-Fajr/89: 15-16)
Wallaahu a'lam...
HUKUM MENGUCAPKAN SALAM DALAM SHALAT FARDLU
PERTANYAAN :
Ibnu Jafar
Assalamualaikum..kaum muslimin wal muslimat..saya mau nanya,apa hukumnya mengucapkan salam assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh di dlm solat fardu, trimakasih.
JAWABAN :
>> Abdurrahman As-syafi'i
wa'alaikum salam
Mengucapkan salam sbg 'penghalal' dari sholat adalah salah satu rukun diantara rukun sholat.
Adapun kalimah salam yg sempurna adalah 'assalamu 'alaikum warohmatulloh'
TIDAK DISUNAHKAN menambahnya dgn kata 'wabarokatuh' ini adalah keterangan yg paling masyhur.
و اعلم ان الاكمال فى السلام ان يقول عن يمينه " السلام عليكم و رحمة الله "
و عن يساره " السلام عليكم و رحمة الله " و لا يستحب ان يقول معه " و بركاته" ،لانه خلاف المشهور عن رسول الله صلى الله عليه و سلم
الاذكار ٦٥
Dalam referensi yg lain jugasama hukumny TIDAK DISUNAHKAN.
و اكمله السلام عليكم و رحمة الله ولا يندب هنا و بركاته على المعتمد وكذا فى الصلاة الجنازة على المعتمد ايضا
البيجورى ١/٢٣٦
"sempurnanya salam adalah assalamu alaikum warohmatulloh, tidak di sunahkan menambahkan wabarokatuh menurut qoul mu'tamad, begitu juga tatkala sholat jenazah"
>> Masaji Antoro
Wa'alaikumsalam
Yups,, Nambah dikit...
Terjadi khilaf dikalangan Syafi'iyyah sendiri tentang penambahan wabarakatuh pada salam saat shalat, namun yang mu'tamad tidak disunahkannya...
( قَوْلُهُ وَأَكْمَلُهُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ ) وَلَا تُسَنُّ زِيَادَةُ وَبَرَكَاتُهُ عَلَى الْمَنْقُولِ الْمَنْصُوصِ وَهُوَ الْمُعْتَدُّ وَإِنْ وَرَدَتْ مِنْ عِدَّةِ طُرُقٍ وَمِنْ ثَمَّ اخْتَارَ كَثِيرٌ نَدْبَهَا ا هـ مِنْ شَرْحِ م ر وع ش عَلَيْهِ .
(Paling sempurnanya salam saat shalat adalah “Assalamualaikum wa Rahmatullah”) dan tidak disunahkan menambahkan Wa Barakaatuh berdasarkan keterangan yang tertetapkan dan dinukil dari Nabi dan inilah pendapat yang kuat serta dapat dijadikan pegangan meskipun terdapat beberapa jalur yang mensunahkannya yang membuat sebagian ulama memilih mensunahkannya.
Hasyiyah al-jamal III/448
( ورحمة الله ) مقتضاه أنه لا يقول وبركاته وهو المشهور , والثاني يستحب والثالث في الأول دون الثاني , حكاها السبكي واختار الثاني .
(Wa Rahmatullah) pengertiannya sesungguhnya jangan mengucapkan Wa baraktuh dan inilah pendapat yang mashur, pendapat kedua mensunahkannya, pendapat ketiga sunah pada saat salam pertama tidak pada salam kedua, pendapat-pendapat tersebut dihikayahkan oleh as-Subky dan beliau memilih pendapat yang kedua.
Hasyiyah Umairah I/192
ولا يندب زيادة ( وبركاته ) على المعتمد عند الشافعية والحنابلة، ودليلهم يتفق مع دليل الحنفية: وهو حديث ابن مسعود وغيره المتقدم: «أن النبي صلّى الله عليه وسلم كان يسلم عن يمينه وعن يساره: السلام عليكم ورحمة ا لله ، السلام عليكم ورحمة الله، حتى يُرى بياض خده» .
فإن نكس السلام فقال: ( عليكم السلام ) لم يجزه عند الشافعية والحنابلة. والأصح عندهم ألا يجزيه: ( سلام عليكم ).
Dan tidak disunahkan menambahkan Wa barakaatuh menurut pendapat yang kuat pada kalangan Syafi’iyyah dan Hanabilah dengan dalil yang telah tersebut dikalangan Hanafiyyah yang menrupakan hadits riwayat Ibn Masud dan lainnya “Bahwa nabi Muhammad SAW saat shalat melakukan salam kearah kanan dan kiri seraya berucap “Assalamualaikum warahmatullah, “Assalamualaikum warahmatullah, hingga beliau melihat warna putih pada pipinya”.
Bila lafadz salamnya dibalik ‘Alaikum salam’ maka tidak boleh menurut Syafi’iyyah dan Hanabilah dan pada pendapat yang paling shahih dikalangan mereka menyatakan ketidak cukupan salam yang dibalik tersebut.
Al-Fiqh al-Islaam II/50
والسنة أن يقول : " السلام عليكم ورحمة الله " مرتين ، وقد صرح الحنفية بكراهة كل صيغة تخالف هذه الصيغة ، وزاد بعضهم لفظ " وبركاته " وقال الشافعية : لا تسن زيادة " وبركاته " .
وقال الحنفية : الأولى تركه ، لحديث
Yang disunahkan bila mengucapkan Assalamualaikum warahnatullah dua kali, kalangan Hanafiyyah memakruhkan lafadz yang menyelisihi shigat ini, sebagian ulama menambahkan wabarakatuh, Kalangan Syafi’iyyah menyatakan tidak sunnahnya sedang kalangan Hanafiyyah menyatakan yang lebih utama meninggalkannya dengan dasar hadits Nabi.
Al-Mausuuah al-Fiqhiyyah 27/101
KENALI ULAMA'-ULAMA' YANG MENGIKUT MANHAJ AKIDAH AL-IMAM
ABU AL-HASSAN AL-ASY`ARI
Sebagaimana yang dimaklumi, pengikut mazhab al-Asy`irah adalah terdiri dari kalangan para
ilmuwan, ahli hadis dan para mujtahid. Memadailah disebut beberapa orang dari kalangan
mereka.
Antara Ulama`-Ulama` dalam bidang Aqidah yang Bermazhab Al-Asya`irah:
• Al-Imam Abu Bakr Ahmad bin Ibrahim bin Ismail al-Ismaili al-Jurjani (277-371 H/890-982 M),
pengarang kitab al-Sahih.
• Al-Qadhi Abu Bakr Muhammad bin al-Thayyib bin Muhammad bin Ja`far al-Baqillani (338-403
H/950-1013 M), pengarang kitab Daqaiq al-Kalam, al-Milal wa al-Nihal, al-Tamhid fi al-Radd
`ala al-Mulhidah wa al-Mu`aththilah wa al-Khawarij wa al-Mu`tazilah dan lain-lain.
• Al-Imam Abu Bakr Muhammad bin al-Hasan bin Furak al-Asbihani al-Syafi`e (W 406 H/1015
M), pengarang kitab Tabaqat al-Mutakallimin dan lain-lain.
• Al-Imam Ruknuddin Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Ibrahim bin Mihran al-Asfarayini
(W. 418 H/1027 M), pengarang kitab al-Jami` fi Usul al-Din wa al-Radd `ala al-Mulhidin dan
lain-lain.
• Abu Mansur Abdul Qahir bin Thahir bin Muhammad al-Tamimi al-Baghdadi (W 429 H/1037
M), pengarang kitab al-Farq Bayna al-Firaq, Usul al-Din, Tafsir Asma’ Allah al-Husna dan lain-
lain.
• Al-Syeikh Abu Qasim Zainul Islam Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Thalhah al-
Naisaburi al-Qusyairi (376-465 H/986-1072 M), pengarang kitab Syikayat Ahl al-Sunnah bima
Nalahum min al-Mihnah.
• Al-ImamAbu al-Muzaffar Syahfur bin Thahir bin Muhammad al-Asfarayini (W 471 H/1078 M),
pengarang kitab al-Tabsir fi al-Din wa Tamyiz al-Firqah al-Najiyah `an al-Firaq al-Halikin.
• Al-Imam Ruknuddin Abu al-Ma`ali Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf bin Muhammad al-
Juwaini, dikenali dengan gelaran al-Imam Haramain (419-478 H/1028-1085 M), pengarang kitab
al-Irsyad ila Qawathi` al-Adillah fi Usul al-I`tiqad, al-Syamil fi Usul al-Din, Luma’ al-Adillah, al-
`Aqidah al-Nizhamiyyah yang terkenal dengan nama al-Nizhami.
• Al-Imam Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi, dikenali
dengan gelaran Hujjatul Islam (450-504 H/1058-1111 M), pengarang kitab al-Iqtisad fi al-I`tiqad,
Ijam al-`Awam `an `Ilm al-Kalam, Faisal al-Tafriqah vaina al-Islam wa al-Zandaqah, al-Qisthas
al-Mustaqim, Qawaid al-`Aqaid dan lain-lain.
• Al-Imam Abu al-Fath Muhammad bin Abdul Karim bin Ahmad al-Syahrastani (479-548
H/1086-1152 M), pengarang kitab Nihayat al-Iqdam fi `Ilm al-Kalam, al-Irsyad ila `Aqaid al-
`Ibad Talkhis al-Aqsam li Madzahid al-Anam, Mushara`at al-Falasifah, Tarikh al-Hukama’ dan
al-Milal wa al-Nihal.
• Al-Imam Fakr al-Din Abu Abdillah Muhammad bin Umar bin al-Husain bin al-Hasan bin Ali al-
Taimi al-Bakri al-Razi (544-606 H/1150-1210 M), pengarang kitab al-Mathalib al-`Aliyah,
Nihayat al-`Uqul, al-Arba`in, al-Muhassal, al-Bayan wa al-Burhan fi al-Radd `ala Ahl al-Zaigh
wa al-Thughyan, al-Mahabith al-`Imadiyah, Tahzib al-Dalail, `Uyun al-Masail, Irsyad al-
Nuzhzhar ila Lathaif al-Asrar dan lain-lain.
• Al-Imam Saifuddin Abu al-Hasan Ali bin Ali bin Muhammad bin Salim al-Taghlabi al-Amidi
(551-631 H/1156-1233 M), pengarang kitab Akbar al-Afkar fi Usul al-Din, Mana`ih al-Qara`ih,
Lubab al-Albab, Rumuz al-Kumuz, Daqaiq al-Haqaiq dan lain-lain.
• Al-Imam Syeikh al-Islam Izuddin Abu Muhammad Abdul Aziz bin Abdissalam bin Abi al-Qasim
bin al-Hasan al-Sulami (577-660 H/1181-1262 M), pengarang kitab al-Aqaid yang sangat
masyhur.
• Al-Imam Syeikh al-Islam al-Hafiz Taqiyyuddin Abu al-Hasan Ali bin Abdul Kafi bina LI al-Subki
al-Ansari al-Khazraji (683-756 H/1284-1355 M), pengarang kitab Takmilah al-Majmu` Syarh al-
Muhadzdzad, al-Ibtihaj fi Syarh al-Minhaj, al-Tahqiq fi Mas’alah al-Ta`liq dan lain-lain.
• Al-Imam `Adhududdin Abu al-Fadhl Abd al-Rahman bin Ahmad Abdul Ghaffar al-Iji al-Syirazi
al-Syafi`e al-Iji (708-756 H/1308-1355 M), pengarang kitab al-Mawaqif fi `Ilm al-Kalam, al-
`Aqaid al-`Adhudiyyah, Jawahir al-Kalam dan lain-lain.
• Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Umar bin Syu`aib al-Sanusi al-Tilimsani al-
Hasani al-Maliki (832-895 H/1428-1490 M), pengarang kitab Aqidah Ahl al-Tauhid, al-`Aqidah
al-Kubra, Umm al-Barahin dan lain-lain.
• Al-Imam Burhanuddin Abu al-Amdad Ibrahim bin Ibrahim bin Hasan al-Laqqani al-Maliki (W
1041 H/1631 M), pengarang kitab Jauharah al-Tauhid dan lain-lain.
• Al-Imam Abu al-Barakat Ahmad bin Muhammad bin Ahmad al-Adawi al-Maliki al-Khalwati,
dikenali dengan gelaran al-Dardir (1127-1201 H/1715-1786 M), pengarang kitab al-Khariah al-
Bahiyyah dan lain-lain.
• Al-Imam Muhammad bin Ahmad bin Arafah al-Dasuqi al-Maliki (W 1230 H/1815 M),
pengarang kitab Hasyiyah `ala Syarh Umm al-Barahin dan lain-lain.
• Al-Imam al-Sayyid Abu al-Fauz Ahmad bin Muhammad bin Ramadhan bin Mansur al-Marzuqi
al-Hasani al-Maliki (1205H/1791 M), pengarang kitab Tahsil Nail al-Maram li Bayan
Manzhumat `Aqidah al-`Awam.
• Al-Imam Syeikh al-Islam Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Baijuri al-Syafi`e (1198-1277
H/1784-1860 M), pengarang kitab Tuhfat al-Murid Syarh Jauharah al-Tauhid, Tahqiq al-Maqam
`ala Kifayat al-`Awam fima Yajibu `Alaihim min `Ilm al-Kalam dan Hasyiyah `ala Umm al-
Barahin.
• Al-Imam al-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan al-Makki al-Syafi`e (1231-1304 H/1816-1886 M),
pengarang kitab al-Durar al-Saniyyah fi al-Radd `ala al-Wahhabiyyah dan lain-lain.
• Al-Imam Abu Abdil Mu`thi Muhammad bin Umar bin Arabi bin Ali Nawawi al-Jawi al-Bantani
al-Tanari al-Syafi`e (1230-1314 H/1813-1897 M), pengarang kitab Nur al-Zhalam Syarh Kifayat
al-`Awam, Qathr al-Gaith fi Syarh Masail Abi al-Laith, Tijan al-Darari `ala Risalah al-Baijuri,
Dzari`at al-Yaqin `ala Umm al-Barahin, al-Nahjat al-Jayyidah li Hall Naqawat al-`Aqidah dan
lain-lain.
• Al-Syeikh Thahir bin Salih bin Ahmad bin Mauhud al-Sam`u al-Jazairi al-Dimasyqi (1268-1338
H/1852-1920 M), pengarang kitab al-Jawahir al-Kalamiyyah fi al-`Aqaid al-Islamiyyah.
Antara Mufassir-mufassir Bermazhab Al-Asya`irah
Para ulama’ mufassir yang terkemuka pada setiap zaman terdiri daripada ulama’ yang mengikuti
mazhab al-Asya`irah dan al-Maturidiyyah. Karya-karya mereka di dalam bidang tafsir al-Quran
telah menjadi rujukan oleh seluruh umat Islam di dunia ini. Mereka diantaranya:
• Al-Imam Abu al-Laith Nashr bin Muhammad al-Samarqandi (W 393 H/1003 M), pengarang
tafsir Bahr al-`Ulum (4 jilid).
• Al-Imam Abu al-Hassan Ali bin Ahmad al-Wahidi al-Naisaburi al-Syafi`e (W 468/1076 M)
pengarang tafsir al-Basit, al-Wasit, al-Wajiz dan kitab Asbab al-Nuzul.
• Al-Imam al-Hafiz Muhyi al-Sunnah Abu Muhammad al-Husain bin Mas`ud al-Baghawi al-
Sayfi`e (433-516 H/1041-1122 M) pengarang tafsir Ma`alim al-Tanzil (4 jilid).
• Al-Hafiz Ibn al-Jauzi al-Hanbali, pengarang kitab Zad al-Masir fi `Ilm al-Tafsir.
• Al-Imam Abu Muhammad Abdul Haqq bin Ghalib bin Abdurrahman bin Athiyyah al-Gharnati al-
Andalusi (481-542 H/1088-1148 M), pengarang kitab al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-
`Izz (8 jilid).
• Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Maliki al-Qurtubi (W 671 H/1273 M),
pengarang tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Quran.
• Al-Imam Nasiruddin Abu Sa`ad Abdullah bin Umar al-Syirazi al-Baidhawi al-Syafi`e (W 685
H/1286 M) pengarang tafsir Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil.
• Al-Imam Hafizuddin Abu al-Barakat Abdullah bin Ahmad bin Mahmud al-Nasafi al-Hanafi (W
710 H/1310 M) pengarang tafsir Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Ta’wil (4 jilid).
• Al-Imam Alauddin Abu al-Hassan Ali bin Muhammad al-Khazin al-Baghdadi al-Syafi`e
(678-741 H/1279-1340 M) pengarang tafsir Lubab al-Ta’wil fi ma`ani al-Tanzil (4 jilid).
• Al-Imam Abu Hayyan Muhammad bin Hayyan al-Andalusi (654-745 H/1256-1344 M)
pengarang tafsir al-Bahr al-Muhit (8 jilid) dan tafsir al-Nahr al-Mad (4 jilid).
• Al-Imam Ahmad bin Yusuf al-Samin al-Halabi (W 756 H/1355 M) pengarang tafsir al-Durr al-
Mashun fi `Ilm al-Kitab al-Maknun.
• Al-Imam al-Hafiz Abu al-Fida Ismail bin Kathir al-Dimaysqi al-Syafi`e (700-774 H/1301-1373
M) pengarang Tafsir al-Quran al-`Azhim (4 jilid), tafsir al-Quran terbaik dalam metodologi
ma`thur.
• Al-Imam Burhanuddin Abu al-Hassan Ibrahim bin Umar al-Biqa`I al-Syafi`e (809-885
H/1406-1480 M) pengarang tafsir Nazhm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar (8 jilid),
karya terbaik dalam memaparkan kolerasi antara ayat-ayat al-Quran.
• Al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti, pengarang Tafsir al-Jalalain, al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir al-
Ma`thur dan lain-lain.
• Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad al-Khatib al-Syirbini al-Syafi`e (W 977 H/1570
M), pengarang Tafsir al-Siraj al-Munir (4 jilid).
• Al-Imam Abu al-Su`ud Muhammad bin Muhammad bin Mustafa al-`Imadi al-Hanafi (898-982
H/1493-1574 M), pengarang Tafsir Irsyad al-`Aql al-Salim ila Mazaya al-Kitab al-Karim (6
jilid).
• Al-Imam Abu Daud Sulaiman bin Umar al-Jamal al-`Ujaili al-Syafi`e (W 1204 H/1790 M),
pengarang kitab al-Futuhat al-Ilahiyyah bi Taudhih Tafsir al-Jalalain bi al-Daqaiq al-Khafiyyah
(4 jilid).
• Al-Imam Ismail Haqqi bin Mustafa al-Burusawi (1063-1138 H/1653-1725 M), pengarang Tafsir
Ruh al-Bayan.
• Al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki (1175-1241 H/1761-1825 M), pengarang
Hasyiah `ala Tafsir al-Jalalain (4 jilid).
• Al-Imam Syihabuddin Abu al-Thana Mahmud bin Abdullah al-Husaini al-Alusi (1217
H/1802-1854 M), pengarang Tafsir Ruh al-Ma`ani fi Tafsir al-Quran al-`Azhim wa al-Sab`i al-
Mathani (30 jilid).
• Al-Imam Muhammad al-Tahir bin `Asyur al-Tunisi al-Maliki (1296-1393 H/1879-1973 M),
pengarang Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir.
Ulama`-ulama` Muhaddithin (hadith) yang bermazhab Al-Asya`irah
Di dalam bidang hadith, baik dari aspek dirayah mahupun aspek riwayah, pengikut mazhab al-
Asy`ari berada di barisan hadapan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan beberapa perkara iaitu
yang pertama ialah majoriti ahli hadith di dalam mengikut mazhab al-Asy`ari dan kedua penulis
syarah bagi kitab Sahih al-Bukhari hanya dilakukan oleh ulama’ yang mengikut mazhab al-
Asy`ari dan yang ketiga, sanad-sanad hadith yang ada sekarang hanya melalui para ulama’ yang
bermazhab al-Asy`ari. Antara ulama’-ulama’ muhaddithin yang bermazhab al-Asy`ari adalah:
• Al-Imam Abu Bakr Ahmad bin Ibrahim bin Ismail al-Ismaili al-Jurjani (277-371 H/890-982 M),
pengarang kitab al-Sahih.
• Al-Imam al-Hafiz Abu al-Hasan Ali bin Umar al-Daruqutni (306-385 H/919-995 M), pengarang
kitab Sunan al-Daruqutni, al-`Ilal, al-Afrad dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Abu Sulaiman Hamad bin Muhammad bin Ibrahim al-Katthabi al-Busti
(319-388 H/931-998 m), pengarang kitab Ma`alim al-Sunan (2 jilid), syarh bagi Sunan Abi
Daud.
• Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah bin al-Bayyi` al-Hakim al-Naisaburi (321-405
H933-1014 M), pengarang kitab al-Mustadrak `ala al-Sahihain (4 jilid), Tarikh Naisabur, `Ulum
al-Hadith, al-Madkhal, al-Iklil, Manaqib al-Imam al-Syafi`e dan lain-lain.
• Al-Imam Abu al-Qasim Hibatullah bin al-Hasan bin Mansur al-Tabari al-Razi al-Syafi`e al-
Lalikai (W 418 H/1027 M), pengarang kitab Syarh Usul I`tiqad Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah.
• Al-Imam Al-Hafiz Abu Nu`aim Ahmad bin Abdullah bin Ahmad al-Mihrani al-Asbihani (336-430
H/948-1038 M), pengarang kitab al-Mustakhraj `ala al-Bukhrai, al-Mustakhraj `ala Muslim dan
lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Abu Dzar Abd bin Ahmad bin Muhammad al-Ansari al-Khurasani al-Harawi
al-Maliki (355-434 H/966-1043 M), pengarang kitab al-Sahih al-Musnad al-Mukharraj `ala al-
Sahihain dan Masanid al-Muwattha` dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Abu Amr Uthman bin Sa`id bin Uthman al-Dani (371-444 H/981-1053 M),
pengarang kitab al-Risalah al-Wafiyah fi Mu`taqad Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Abu Bakr Ahmad bin al-Husain bin Ali al-Baihaqi al-Khusrujirdi (384-458
H/994-1066 M), pengarang kitab al-Sunan al-Kubra (10 jilid), Na`rifat al-Sunan wa al-Athar (7
jilid) dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Abu Bakr Ahmad bin Ali bin Thabit al-Khatib al-Baghdadi (392-463
H/1002-1072 M), pengarang kitab al-Faqih wa al-Mutafaqqih, Syaraf Ashab al-Hadith, al-Jami`,
al-Sabiq wa al-Lahiq, al-Muttafiq wa al-Muftariq, Muwadhdhih Auham al-Jami` wa al-Tafriq, al-
Kifayah fi `Ilm al-Riwayah dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Abu Umar Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abdil Barr al-Namari al-
Andalusi al-Qurtubi al-Maliki (368-463 H/978-1071 M), pengarang kitab al-Tamhid lima fi al-
Muwaththa` min al-Ma`ani wa al-Asanid, al-Istidzkar al-Jami` li Mazhab Fuqaha al-Amsar (20
jilid), al-Kafi fi al-Fiqh al-Maliki, Nuzat al-Majalis (3 jilid) dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz al-Qadhi Abu al-Walid Sulaiman bin Khalaf bin Sa`ad al-Tujibi al-Andalusi
al-Qurtubi al-Baji al-Maliki (403-474 H/1012-1081 M), pengarang kitab al-Muntaqa fi Syarh al-
Muwaththa` (4 jilid), al-Ma`ani fi Syarh al-Muwaththa` (20 jilid dalam bentuk manuskrip), al-
Ima` fi al-Fiqh, al-Siraj fi al-Khilaf, al-Tasdid ila Ma`rifat al-Tauhid, Ihkam al-Fusul fi Ahkam al-
Usul dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Abu al-Hasan Abdul Ghafir bin Ismail bin Abdul Ghafir al-Farisi al-Naisaburi
(451-529 H/1059-1135 M), pengarang kitab al-Siyaq li Tarikh Naisabur dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz al-Qadhi Abu Bakr Muhammad bin Abdullah al-Arabi al-Andalusi al-Isybili
al-Maliki (468-543 H/1076-1148 M), pengarang kitab `Aridhat al-Ahwadzi fi Syarh Jami` al-
Tirmizi (13 jilid), al-Qabas fi Syarh Muwaththa` Malik Bin Anas (4 jilid) dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz al-Qadhi Abu al-Fadhal Iyadh bin Musa bin Iyadh al-Yahsubi al-Andalusi al-
Sabti al-Maliki (476-544 H/1083-1149 M), pengarang kitab al-Ikmal fi Syarh Sahih Muslim,
Syarh Umm Zar, al-Ilma` ila Ma`rifat Usul al-Riwayah wa Taqyid al-Sima` dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Abu Sa`ad Abdul Karim bin Muhammad bin Mansur bin Muhammad bin Abdul
Jabbar al-Tamimi al-Sam`ani al-Khurasani al-Marwazi (506-562 H/1113-1167 M), pengarang
kitab al-Tadzyil `ala Tarikh Baghdad, al-Ansab (7 jilid), Adab al-Imla` wa al-Istimla`, al-Tahbir
fi al-Mu`jam al-Kabir dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Abu al-Qasim Ali bin al-Hasan bin Hibatullah bin Abdullah bin al-Husain al-
Dimasyqi (499-571 H/1105-1176 M), pengarang kitab Tabyin Kizb al-Muftari dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Abu al-Faraj Abd al-Rahman bin Ali Abd al-Rahman al-Qurasyi al-Baakri al-
Siddiqi al-Baghdadi al-Hanbali (508-597 H/1114-1201 M), pengarang kitab al-Maudhu`at (3
jilid) dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Taqiyyuddin Abu Amr Uthman bin Abd al-Rahman bin Uthman al-Kurdi al-
Syahrazuri (577-643 H/1181-1245 M), pengarang kitab `Ulum al-Hadith dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Zakiyyuddin Abu Muhammad Abdul `Azhim bin Abdul Qawi al-Mundziri al-
Syafi`e (581-656 H/1185-1258 M), pengarang kitab Mukhtasar Sahih Muslim, Mukhtasar Sunan
Abi Daud, al-Targhib wa al-Tarhid dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Murri bin Hasan al-Hizami al-
Haurani al-Nawawi (631-676 H/1233-1277 M), pengarang kitab Syarh Sahih Muslim, Riyadh al-
Salihin, Syarh Sahih al-Bukhari, al-Adzkar dan al-Arba`in al-Nawawiyyah.
• Al-Imam al-Hafiz Taqiyyuddin Abu al-Fath Muhammad bin Ali bin Wahab bin Muthi` al-
Qusyairi, dikenali dengan gelaran Ibn Daqiq al-`Id (625-702 H/1228-1302 M), pengarang kitab
al-Iqtirah fi Usul al-Hadith, al-Ilman fi Hadith al-Ahkam, al-Imam fi Syarh al-Ilmam, Syarh
`Umdat al-Ahkam dan Syarh al-Arba`in al-Nawawiyyah.
• Al-Imam al-Hafiz Syarafuddin Abu Muhammad Abdul Mukmin bin Khalaf al-Dimyathi (613-705
H/1217-1306 M), pengarang kitab al-Matjar al-Rabih fi Thawab al-`Amal al-Sahih, Fadhl al-
Khail, Mu`jam al-Syuyukh dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Jamaluddin Abu al-Hajjaj Yusuf bin Abd al-Rahman bin Yusuf al-Qudha`i al-
Kalbi al-Dimasyqi al-Mizzi al-Syafi`e (654-742 H/1256-1341 M), pengarang kitab Tahzib al-
Kamal fi Asma’ al-Rijal, Tufat al-Asyraf fi Ma`rifat al-Athraf dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Salahuddin Abu Sa`id Khalil bin Kaikaladi al-`Ala`i (694-761 H/1295-1359
M), pengarang kitab al-Tahsil fi Ahkam al-Marasil dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Zainuddin Abu al-Fadhal Abd al-Rahim bin al-Husain bin Abd al-Rahman al-
`Iraqi (725-806 H/1325-1404 M), pengarang kitab al-Fiyat al-Hadith, al-Taqyid wa al-Idhah lima
Ubhima wa Ughliqa min Muqaddimat Ibn al-Shalah dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Nuruddin Abu al-Hasan Ali bin Abi Bakr bin Sulaiman al-Syafi`e al-Haithami
(735-807 M/1335-1405 M), pengarang kitab Mawarid al-Zham`an fi Zawaid Ibn Hibban, Majma`
al-Zawaid wa Manba`u al-Fawaid, Majma` al-Bahrain fi Zawaid al-Mu`jamain, Bughyat al-
Bahith `an Zawaid Musnad al-Harith, Taqrib al-Bughyah fi Tartib Ahadith al-Hilyah dan lain-
lain.
• Al-Imam al-Hafiz Syamsuddin Abu al-Khair Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-
Dimasyqi al-Syirazi al-Syafi`e, dikenali dengan Ibn al-Jazari (751-833 H/1350-1429 M),
pengarang kitab al-Hishn al-Hashin dan Tuhfat al-Dzakirin.
• Al-Imam al-Hafiz Qadhi al-Qudhat Syihabuddin Abu al-Fadhal Ahmad bin Ali bin Muhammad
al-Kinani al-`Asqalani al-Syafi`e, dikenali dengan gelaran Ibn Hajar (773-852 H/1372-1449 M),
pengarang kitab Fath al-Bari bi Syarh Sahih al-Bukhari, Bulugh al-Maram dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Syamsuddin Abu al-Khair Muhammad bin Abd al-Rahman bin Muhammad al-
Sakhawi (831-902 H/1421-1497 M), pengarang kitab al-Maqasid al-Hasanah fi al-Ahadith al-
Musytahirah `ala al-Alsinah, Fath al-Mughith bi Syarh Alfiyat al-Hadith dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuthi Abu al-Fadhal Abd al-Rahman bin Abi Bakr bin
Muhammad al-Suyuthi (848-911 H/1445-1505 M), pengarang kitab al-Jami` al-Saghir, Jam`u
al-Jawami`, al-Jami` al-Kabir, Syarh Sunan al-Nasa`i, Tanwir al-Hawalik, Tadrib al-Rawi dan
lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Zainuddin Abu Yahya Zakaria bin Muhammad bin Ahmad bin Zakaria al-
Ansari al-Sunaiki al-Qahiri al-Azhari al-Syafi`e (823-926 H/1420-1520 M), pengarang kitab
Syarh al-Bukhari yang dirangkumnya dari sepuluh macam kitab seperti Fath al-Bari karya al-
Hafiz Ibn Hajar, Syarh al-Kirmani, Syarh al-`Aini, al-Hafiz al-Suyuthi dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz Zainuddin Muhammad Abd al-Rauf bin Tajul Arifin bin Ali bin Zainal al-
Haddadi al-Munawi al-Qahiri al-Syafi`e (952-1031 H/1545-1622 M), pengarang kitab al-Jami`
al-Azhar fi Hadith al-Nabi al-Anwar dan lain-lain.
• Al-Imam Muhammad Ali bin Muhammad Allan bin Ibrahim al-Bakri al-Siddiqi al-Syafi`e
(996-1057 H/1588-1647 M), pengarang kitab Dalil al-Falihin li Thuruq Riyadh al-Salihin, al-
Futuhat al-Rabbaniyyah dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz al-Sayyid Abu al-Faidh Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Abd
al-Razzaq al-Husaini al-Zabidi, dikenali dengan gelaran Murtadha al-Zabidi (1145-1205
H/1732-1790 M), pengarang kitab Taj al-`Arus min Jawahir al-Qamus (20 jilid), Ittihaf al-Sadah
al-Muttaqin (10 jilid) dan lain-lain.
• Al-Imam al-Hafiz al-Sayyid Abu al-Faidh Ahmad bin Muhammad al-Siddiq al-Ghumari al-
Hasani al-Idris al-Syafi`e al-Azhari (1320-1380 H/1902-1960 M), pengarang kitab al-Hidayah fi
Takhrij kitab al-Bidayah dan Mudawi li Ilal al-Jami` wa Syarhai al-Munawi.
Antara Ulama`-ulama` Fiqh yang Bermazhab Al-Asya`irah
Dalam paparan yang sebelumnya telah dijelaskan, bahawa para ulama’ fiqh yang bermazhab
Hanafi, Maliki, Syafi`e dan para ulama’ Hanbali, mereka semua mengikut mazhab al-Asy`ari dan
al-Maturidi di dalam bidang akidah. Oleh itu, jelaslah bahawa para fuqaha yang menjadi rujukan
majoriti kaum Muslimin di dunia adalah pengikut mazhab al-Asy`ari dan al-Maturidi.
Antara Ulama`-ulama` Usul Fiqh yang Bermazhab Al-Asya`irah
Para ulama’ Usul Fiqh yang terkemuka pada setiap zaman adalah dari kalangan ulama’ yang
mengikuti mazhab al-Asy`ari dan al-Maturidi. Di sini kami akan menyenaraikan ulama’ Usul
Fiqh dan karya-karya penting mereka di dalam bidang Usul Fiqh yang masyhur dan menjadi
rujukan golongan pelajar dan intelektual dunia Islam daripada pelbagai mazhab. Antarnya:
• Al-Imam al-Haramain Abu al-Ma`ali, pengarang al-Burhan fi Usul al-Fiqh, al-Waraqat dan
lain-lain.
• Syeikh Abu Ishaq al-Syirazi, pengarang kitab al-Luma’ fi Usul al-Fiqh, al-Tabsirah fi Usul al-
Fiqh, Syarh al-Luma` dan lain-lain.
• Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali, pengarang al-Mustasfa min `Ilm al-Usul, al-Mankhul min
Ta`liqat al-Usul, Syifa’ al-`Alil dan lain-lain.
• Saifuddin al-Amidi, pengarang kitab al-Ihkam fi Usul al-Ahkam.
• Al-Imam Fakhruddin al-Razi, pengarang al-Mahsul fi `Ilm al-Usul, al-Muhassal dan al-Arba`in.
• Al-Imam Nasiruddin al-Baidhawi, pengarang kitab Minhaj al-Wusul ila `Ilm al-Usul.
• Al-Imam Jamaluddin Abu Amr Uthman bin Umar al-Maliki, dikenali dengan gelaran Ibn al-Hajib
(570-646 H/1174-1249 M), pengarang kitab Muntaha al-Sul Wa al-Amal fi `Ilmay al-Usul wa al-
Jadal dan Mukhtasar Muntaha al-Sul wa al-Amal.
• Al-Imam al-Syarif Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Idris al-hasani al-Tilimsani
(710-771 H/1310-1370 M), pengarang kitab Miftah al-Wusul ila Bina` al-Furu` `ala al-Usul.
• Al-Imam Tajuddin Abdul Wahhab bin Ali al-Subki al-Syafi`e (728-771 H/1327-1370 M),
pengarang kitab Jam`u al-Jawami`, Man`u al-Mawani` `an Jam`i al-Jawami`, Syarh Mukhtasar
Ibn al-Hajib dan lain-lain.
• Al-Imam Jamaluddin Abu Muhammad Abdul al-Rahim bin al-Hasan al-Isnawi (704-772
H/1305-1370 M), pengarang kitab Nihayat al-Sul Syarh Minhaj al-Wusul, al-Tamhid fi Takhrij
al-Furu` `ala al-Usul, al-Kaukab al-Durri dan lain-lain.
• Al-Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Musa al-Syatibi (W 790 H/1388 M), pengarang kitab al-
Muwafaqat fi Usul al-Ahkam.
• Al-Imam Badr al-Din Abu Abdillah Muhammad bin Bahadir al-Zarkasyi al-Syafi`e (745-794
H/1344-1392 M), pengarang kitab Tasynif al-Masami` Syarh Jami` al-Jawami` dan al-Bahr al-
Muhit fi Usul al-Fiqh.
• Syeikh al-Islam Zakaria al-Ansari, pengarang kitab Ghayat al-Wusul Syarh Lubb al-Usul.
• Al-Imam Syamsuddin Ahmad bin Qasim al-Sabbagh al-`Ubbadi (W 992 H/1584 M), pengarang
kitab al-Ayat al-Bayyinat, Syarh al-Waraqat dan lain-lain.
• Al-Imam Abdul al-Rahman bin Jadullah al-Bannani al-Maliki (W 1198 H/1784 M), pengarang
kitab Hasyiah al-Bannani `ala Syarh Jam`i al-Jawami`.
• Al-Imam Muhammad Bakhit bin Husain al-Muthi`i al-Hanafi (1271-1354 H/1854-1935 M),
pengarang kitab Sullam al-Wusul l- Syarh Nihayat al-Sul.
• Al-Imam Muhammad Abu Zahrah bin Ahmad (13316-1394 H/1898-1974 M), pengarang kitab
Usul al-Fiqh.
Antara ulama’ yang mengarang Kitab Sirah Nabi sallallahu`alaihi wasallam dan Maghazi yang
bermazhab Asy`ari
Di dalam bidang ilmu Sirah (sejarah kehidupan dan perjalanan Nabi sallallahu`alaihi wasallam
dan maghazi (sejarah peperangan Nabi sallallahu`alaihi wasallam, para ulama’ yang mengikut
mazhab al-Asy`ari dan al-Maturidi memiliki peranan terbesar di dalamnya. Menurut al-Imam
Abu al-Muzaffar al-Asfarayini, ilmu Sirah dan Maghazi adalah ilmu yang khusus dimiliki oleh
ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah. Oleh itu, kami kemukan beberapa ulama’ yang bermazhab
al-Asy`ari dan al-Maturidi serta karya-karya mereka di dalam bidang Sirah dan Maghazi yang
masyhur dan menjadi rujukan para pakar dan intelektual.
• Al-Imam al-Hafiz Abu Nu`aim al-Asbihani, pengarang kitab Dalail al-Nubuwwah.
• Al-Imam al-Hafiz al-Baihaqi, pengarang kitab Dalail al-Nubuwwah wa Ahwal Shahib al-
Syari`ah.
• Al-Imam al-Hafiz al-Qadhi Iyadh, pengarang kitab al-Syifa fi Syamail wa Ahwal al-Mustafa.
• Al-Imam al-Hafiz Ibn al-Jauzi al-Hanbali, pengarang kitab al-Wafa bi Ahwal al-Mustafa.
• Al-Imam Abdu al-Rahman bin Abdullah al-Suhaili (508-581 H/1114-1185 M), pengarang kitab
al-Raudh al-Unuf.
• Al-Hafiz Fathuddin Abu al-Fath Muhammad Ibn Sayyid al-Nas al-Ya`muri (671-734
H/1273-1334 M), pengarang kitab `Uyun al-Athar.
• Al-Imam Taqiyyuddin Abu al-`Abbas Ahmad bin Ali bin Abdul Qadir al-Maqrizi (768-845
H/1367-1441 M), pengarang kitab Imta` al-Asma’ bima li Rasul mina al-Abma’ wa al-Ahwal wa
al-Hafadah wa al-Mata’.
• Al-Imam Nuruddin Abu al-Hasan Ali bin Ibrahim al-Halabi al-Syafi`e (975-1044 H/1567-1635
M), pengarang kitab Insan al-`Uyun fi Sirah al-Amin al-Ma`mun yang dikenali dengan Sirah al-
Halabiyyah.
• Al-Imam Syihabuddin al-Qastalani, pengarang kitab al-Mawahid al-Ladunniyyah.
• Al-Imam Muhammad bin Yusuf al-Syami al-Salihi (W 942 H/1536 M), pengarang kitab Subul
al-Huda wa al-Rasyad.
• Al-Imam al-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan al-Makki, pengarang kitab al-Sirah al-Nabawiyyah.
Antara ulama yang bermazhab al-Asy`ari yang menulis mengenai Sejarah Islam
Di dalam bidang sejarah Islam, karya-karya terbaik di dalam bidang terssebut, ditulis oleh para
ulama’ yang bermazhab al-Asy`ari dan al-Maturidi. Di antara mereka ialah:
• Al-Hafiz al-Khatib al-Baghdadi, pengarang kitab Tarikh Baghdad.
• Al-Hafiz al-Hakim, pengarang kitab Tarikh Naisabur.
• Al-Hafiz Abu Nu`aim, pengarang kitab Dzikr Akhbar Asbihan.
• Al-Hafiz Ibn Asakir, pengarang kitab Tarikh Madinah Dimasyq.
• Al-Hafiz Ibn al-Jauzi al-Hanbali, pengarang kitab al-Muntazham fi Tarikh al-Muluk wa al-
Umam.
• Al-Imam Izzuddin Abu al-Hassan Ali bin Muhammad, yang dikenali dengan gelaran Ibn al-Athir
al-Jazari (555-630 H/1160-1233 M), pengarang kitab al-Kamil fi al-Tarikh.
• Al-Imam Abu al-Qasim Abdul Karim bin Muhammad al-Rafi`i (557-623 H/1162-1226 M),
pengarang kitab al-Tadwin fi Dzikr Akhbar Qazwin.
• Al-Imam Waliyyuddin Abu Zaid Abdul al-Rahman Ibn Khaldun al-Hadhrami (732-808
H/1332-1406 M), pengarang kitab al-`Ibar wa Diwan al-Mubtada` wa al-Khabar fi Tarikh al-
`Arab wa al-`Ajam wa al-Barbar yang dikenali dengan Tarikh Ibn Khaldun (7 jilid).
Antara ulama’ yang bermazhab al-Asy`ari yang menulis mengenai biografi para ulama’ dan
tokoh-tokoh Islam
Di dalam bidang biografi para ulama’ dan tokoh-tokoh Islam, karya-karya terbaik selalu ditulis
oleh para ulama’ yang bermazhab al-Asy`ari. Misalnya, para ulama’ yang menulis biografi para
sahabat seperti:
• Al-Hafiz Abu Nu`aim, pengarang kitab Ma`rifat al-Sahabah.
• Al-Hafiz Ibn Abdil Barr, pengarang kitab al-Isti`ab fi Asma’ al-Ashab.
• Al-Imam Ibn Athir al-Jazari, pengarang kitab Usd al-Ghabah fi Ma`rifat al-Sahabah.
• Al-Hafiz Ibn Hajar, pengarang kitab al-Ishabah fi Tamyiz al-Sahabah.
Antara ulama’ yang menulis biografi para zahid dan kaum sufi, juga mengikut mazhab al-Asy`ari
seperti:
• Al-Hafiz Abu Abd al-Rahman Muhammad bin al-Husain al-Sulami al-Sufi (325-412
H/937-1021 M), pengarang kitab Tabaqat al-Sufiyyah.
• Al-Hafiz Abu Nu`aim, pengarang kitab Hilyah al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asyfiya’.
• Al-Hafiz Ibn Jauzi al-Hanbali, pengarang kitab Sifat al-Safawah.
• Al-Hafiz Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali al-Ansari al-Wadiyasyi, yang dikenali dengan
gelaran Ibn al-Mulaqqin (723-804 H/1493-1565 M), pengarang kitab Lawaqih al-Anwar fi
Tabaqat al-Akhyar dan al-Tabaqat al-Sughra.
• Al-Hafiz Abd al-Rauf al-Munawi, pengarang kitab al-Kawakib al-Durriyyah fi Tarajim al-Sadah
al-Sufiyyah dan Irgham Auliya’ al-Syaithan bi Dzikr Manaqib Auliya’ al-Rahman.
Biografi para ulama’ dan tokoh yang bersifat umum juga ditulis oleh para ulama’ yang mengikut
mazhab al-Asy`ari dan al-Maturidi. Di antara mereka adalah:
• Al-Imam Abu Ishaq al-Syirazi, pengarang kitab Tabaqat al-Fuqaha.
• Al-Imam Abu al-Hasan Ali bin al-Hasan al-Bakharzi (W 467 H/1075 M), pengarang kitab
Dumyat al-Qashr wa `Ushrat Ahl al-`Asr.
• Al-Imam al-Qadhi Syamsuddin Abu al-`Abbas Ahmad bin Muhammad, dikenali dengan gelaran
Ibn Khallikan al-Barmaki (608-681 H/1211-1282 M), pengarang kitab Wafayat al-A`yan.
• Al-Imam Salahuddin Khalil bin Aibak al-Safadi (696-764 H/1296-1363 M), pengarang kitab al-
Wafi fi al-Wafayat.
• Al-Imam Salahuddin Muhammad bin Syakir al-Kutbi (W 764 H/1363 M), pengarang kitab Fawat
al-Wafayat dan `Uyun al-Tawarikh.
Penulisan biografi ulama’ dan tokoh yang sesuai dengan adab mereka, juga ditulis oleh para
ulama’ yang bermazhab al-Asy`ari. Di antara mereka adalah:
• Al-Hafiz al-Sakhawi, pengarang kitab al-Dhaw`u al-Lami’ li Ahl al-Qarn al-Tasi` (biografi
ulama` abad ke 9 H).
• Al-Imam al-Sayyid Abd Qadir bin Syeikh bin Abdullah al-`Aidarus (978-1038 H/1570-1628 M),
pengarang kitab al-Nur al-Safr `an Akhbar al-Qarn al-`Asyir (biografi ulama’ abad ke 10 H).
• Al-Imam Najmuddin Abu al-Makarim Muhammad bin Muhammad al-Ghazzi al-Amiri
(977-1061 H/1570-1651 M), pengarang kitab al-Kawakib al-Sairah bi `Ayan al-Miah al-`Asyirah
(biografi ulama’ abad ke 10 H).
• Al-Imam Muhammad Amin bin Fadhullah al-Muhibbi (1061-1111 H/1651-1699 M), pengarang
kitab Khulasat al-Athar fi `Ayan al-Qarn al-Hadi `Asyar (biografi ulama’ abad ke 11 H).
• Al-Imam al-Sayyid Abu al-Fadhl Muhammad Khalil bin Ali al-MuraDi al-Husaini (1173-1206
H/1760-1791 M), pengarang kitab Silk al-Durar fi A`yan al-Qarn al-Thani `Asyar (biografi
ulama’ abad ke 12 H).
• Al-Syeikh Abd al-Razzaq bin Ibrahim bin Hasan al-Baithar (1253-1335 H/1837-1916 M),
pengarang kitab Hilyat al-Basyar fi Tarikh al-Qarn al-Stalis `Asyar (biografi ulama’ abad ke 13
H).
• Al-Syeikh Abu al-Khair Abdullah bin Mirdad (W 1343 H/1924 M), pengarang kitab Nasyr al-Nur
wa al-Zahar fi Tarajim Ulama’ Makkah wa Afadhiliha min al-Qarn al-`Asyir ila al-Qarn al-Rabi`
`Asyar (biografi ulama’ abad ke 10-14 H yang tinggal di Mekah).
Penulisan biografi para ulama’ berdasarkan nisbah dan nasab juga ditulis oleh para ulama’ yang
bermazhab al-Asy`ari. Di antara mereka adalah:
• Al-Hafiz Ibn al-Sam`ani, pengarang kitab al-Ansab.
• Al-Hafiz Ibn al-Athir al-Jazari, pengarang kitab al-Lubab fi Tahzib dan al-Ansab.
• Al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti, pengarang kitab al-Lubb al-Lubab fi Tahrir al-Ansab.
Ulama’ yang menulis kitab mengenai Ilmu Gramatika dan Bahasa yang bermazhab al-Asy`ari
Di dalam bidang ilmu gramatika Arab (ilmu nahu dan saraf), karya-karya yang menjadikan
rujukan golongan pelajar dan intelektual dunia Islam juga ditulis oleh para ulama’ yang
bermazhab al-Asy`ari. Menurut al-Syeikh Abu Mansur al-Baghdadi di dalam Kitab al-Farq bayna
al-Firaq, majoriti pakar gramatika, bahasa dan sastera Arab pada masa Salaf mengikuti mazhab
Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah. Antaranya ialah ulama Kufah seperti al-Muhafaddhal al-Dhabbi,
Ibn al-A`rabi, al-Ruwwasi, al-Kisa`i, al-Farra`, Abu Ubaid al-Qasim bin Salam, Ali bin Mubarak
al-Lahyani, Abu Amr al-Syaibani, Ibrahim al-Harbi, Tha`lab, Ibn al-Anbari, Ibn Miqsam, Ahmad
bin Faris dan lain-lain adalah pakar dalam ilmu nahu dan saraf daripada Kufah yang mengikut
Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah.
Dari kalangan ulama’ Basrah juga tampil seperti Abu al-Aswad al-Du`ali, Yahya bin Ya`mar, Isa
bin Umar al-Thaqafi, Abu Amr bin al-`Ala`, al-Khalil bin Ahmad, Khalaf al-Ahmar, Yunus bin
Habib, Sibawaih, al-Akhfasy, al-Ashma`i, Abu Zaid al-Ansari, al-Zajjaj, al-Mubarrid, Ibn Duraid,
al-Azhari dan lain-lain juga mengikut Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah.
Pada abad pertengahan, para pakar gramatika yang masyhur dan karya-karya yang menjadi
rujukan oleh golongan pelajar dan intelektual di dunia Islam juga mengikut Ahl al-Sunnah Wa al-
Jama`ah dengan bermazhab al-Asy`ari dan al-Maturidi. Di antara mereka adalah:
• Al-Imam Jamaluddin Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah bin Malik al-Tha`i al-Jayyani al-
Syafi`e, yang masyhur dengan gelaran Ibn Malik (600-672 H/1203-1274 M), pengarang kitab
Alfiyah Ibn Malik dan lain-lain.
• Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Daud al-Shanhaji, yang masyhur dengan
gelaran Ibn Ajurrum (672-723 H), pengarang kitab al-Muqaddimah al-Ajurumiyyah yang sangat
masyhur.
• Al-Imam Jamaluddin Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf bin Ahmad bin Abdullah bin Hisyam
al-Ansari yang sangat masyhur dengan gelaran Ibn Hisyam (708-761 H/1309-1360 M),
pengarang kitab Mughni al-Labib `an Kutub al-A`arib, Syudzur al-Dzahab dan lain-lain.
• Al-Imam Qadhi al-Qudhat Bahauddin Abdullah bin Abdul al-Rahman al-`Aqili al-Qurasyi yang
dikenali dengan gelaran Ibn `Aqil (694-769 H/1294-1367 M), pengarang kitab Syarh Ibn `Aqil
`ala Alfiyah Ibn Malik.
• Al-Imam Syarafuddin Yahya bin Musa bin Ramadhan al-`Imrithi al-Syafi`e (W 890 H/1485 M),
pengarang kitab Nazhm al-Ajurrumiyyah.
• Al-Imam Zainuddin Khalid bin Abdullah al-Jurjawi al-Azhari (838-905 H/1434-1499 M),
pengarang kitab al-Muqaddimah al-Azhariyyah fi `Ilm al-`Arabiyyah, Mushil al-Thullab ila
Qawaid al-I`rab, Syarh al-Ajurrumiyyah, al-Tasrih `ala al-Taudhih dan lain-lain.
Di dalam bidang bahasa Arab, karya-karya terbaik yang menjadi rujukan golongan pelajar dan
intelektual adalah tulisan para ulama’ yang bermazhab al-Asy`ari dan al-Maturidi. Di antara
mereka adalah:
• Al-Imam Abu al-Hasan Ali bin Ismail al-Andalusi al-Mursi, yang dikenali dengan gelaran Ibn
Sidah (398-458 H/1007-1066 M), pengarang kitab al-Muhkam wa al-Muhit al-`Azham, al-
Mukhassih dan lain-lain.
• Al-Imam Majduddin Abu al-Fadhl Muhammad bin Abi Bakr al-Razi al-Hanafi (666 H/1268 M),
pengarang kitab Mukhtar al-Sihah.
• Al-Imam Jamaluddin Abu al-Fadhl Muhammad bin Mukarram al-Ifriqi, yang dikenali dengan
gelaran Ibn Manzur (630-711 H/1232-1311 M), pengarang kitab Lisan al-`Arab.
• Al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Fayyumi (W 770 H/1368 M), pengarang kitab al-Misbah al-
Munir.
• Al-Imam Majduddin Abu Thahir Muhammad bin al-Ya`qub al-Fairuzabadi (729-817
H/1329-1414 M), pengarang kitab al-Qamus al-Muhit.
• Al-Imam al-Hafiz Abu al-Faidh Muhammad bin Muhammad, yang dikenali dengan Sayid
Murtadha al-Zabidi (1145-1205 H/1732-1791 M), pengarang kitab Taj al-`Arus fi Syarh al-
Qamus.
Antara Pemimpin-pemimpin Islam yang Masyhur yang Bermazhab Al-Asya`irah
• Sultan Salahuddin Al-Ayyubi
• Sultan Muhammad Al-Fateh
• Al-Syahid Al-Imam Hassan Al-Banna
Dan ramai lagi para ulama` Islam yang bermazhab al-Asy`ari...
Semoga Allah ta`ala memberkati mereka dan seluruh umat Islam... Amin
Demikianlah, pandangan sepintas lalu terhadap ulama’-ulama’ yang bermazhab al-Asy`ari yang
pakar dalam bidang tauhid, hadith, tafsir, biografi, sejarah, sirah, usul fiqh dan ilmu pengetahuan
Islam yang lain. Oleh itu jelaslah kepada kita bahawa ulama’-ulama’ yang bermazhab al-Asy`ari
menjadi rujukan utama oleh umat Islam di dunia ini. Kesimpulannya, para ulama’ yang
bermazhab al-Asy`ari dan al-Maturidi memiliki peranan yang paling banyak di dalam peradaban
Islam.
Tokoh-Tokoh Ahlussunnah Wal Jama'ah Dari Masa Ke Masa
Sesungguhnya keutamaan, kemuliaan dan keagungan para pengikut adalah menunjukan keagungan
orang yang diikutinya. Seluruh ulama terkemuka di kalangan Ahlussunnah adalah pengikut al-Imâm
Abu al-Hasan al-Asy’ari, atau pengikut al-Imâm Abu Manshur al-Maturidi. Dengan demikian tidak
disangsikan lagi bahwa kedua Imam ini adalah sebagai penegak tonggak dasar dari berkibarnya
bendera Ahlssunnah, yang oleh karenanya kedua Imam ini memiliki keutamaan dan kemuliaan yang
sangat agung.
Sebagaimana telah kita sebutkan di atas bahwa Ahlussunnah adalah mayoritas umat Islam. Ini
berarti dalam menuliskan tokoh-tokoh Ahlussunnah akan meliputi berbagai sosok agung antar
generasi ke generasi dan dari masa ke masa. Melakukan “sensus” terhadap mereka tidak akan cukup
dengan hanya menuliskannya dalam satu jilid buku saja, bahkan dalam puluhan jilid sekalipun.
Sebagaimana anda lihat sekarang ini berapa banyak karya-karya para ulama terdahulu yang ditulis
dalam mengungkapkan biografi ulama Ahlussunnah, termasuk dalam hal ini penulisan biografi yang
ditulis menurut komunitas tertentu sesuai disiplin mereka masing-masing, seperti komunitas kaum
sufi, komunitas ahli hadists, para ahli tafsir, atau lainnya. Dapat kita pastikan bahwa kebanyakan
ulama-ulama yang telah dituliskan biografinya tersebut adalah para pengikut al-Imâm al-Asy’ari.
Di antara karya komprehensif dalam menuliskan biografi ulama Ahlussunnah pengikut al-Imâm Abu
al-Hasan al-Asy’ari adalah kitab karya al-Imâm al-Hâfizh Abu al-Qasim Ibn Asakir dengan judul
Tabyîn Kadzib al-Muftarî Fîmâ Nusiba Ilâ al-Imâm Abî al-Hasan al-Asy’ari. Kitab ini ditulis Ibn
Asakir untuk membela al-Imâm al-Asy’ari dari tuduhan-tuduhan dusta yang dialamatkan kepadanya.
Di dalamnya, selain biografi al-Imâm al-Asy’ari, disebutkan pula beberapa tokoh Ahlussunnah yang
benar-benar telah “pasang badan” dalam mengibarkan madzhab al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari
ini.
Karya lainnya adalah tulisan al-Imâm Tajuddin as-Subki; putra dari Qâdlî al-Qudlât al-Imâm al-
MujtahidTaqiyuddin as-Subki yang berjudul Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ. Kitab ini sangat
besar, dalam belasan jilid, berisi penyebutan biografi para ulama terkemuka di kalangan madzhab
asy-Syafi’i. Dipastikan bahwa mayorits ulama yang disebutkan dalam kitab ini adalah para pengikut
al-Imâm al-Asy’ari. Bahkan dalam bukunya ini al-Imâm Tajuddin membuat pasal khusus dalam
penyebutan tokoh-tokoh yang memiliki andil besar dalam penyebaran akidah Ahlussunnah madzhab
al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari.
Berikut ini kita sebutkan beberapa nama tokoh terkemuka yang memiliki andil besar dalam
penyebaran akidah Asy’ariyyah. Ulama kita di kalangan Ahlussunnah mengatakan bahwa menyebut
nama orang-orang saleh adalah sebab bagi turunnya segala rahmat dan karunia Allah; Bi Dzikr ash-
Shâlihîn Tatanazzal ar-Rahamât”. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa al-Imâm Ahmad ibn
Hanbal berkata tentang salah seorang yang sangat saleh bernama Shafwan ibn Sulaim: “Dia
(Shafwan ibn Sulaim) adalah orang saleh yang bila disebut namanya maka hujan akan turun”.
Karenanya, semoga dengan penyebutan orang-orang saleh berikut ini, kita mendapatkan karunia dan
rahmat dari Allah. Amin.
A. Angkatan Pertama
Angkatan yang semasa dengan al-Imâm Abu al-Hasan sendiri, yaitu mereka yang belajar kepadanya
dan mengambil pendapat-pendapatnya, di antaranya: Abu al-Hasan al-Bahili, Abu Sahl ash-Shu’luki
(w 369 H), Abu Ishaq al-Isfirayini (w 418 H), Abu Bakar al-Qaffal asy-Syasyi (w 365 H), Abu Zaid al-
Marwazi (w 371 H), Abu Abdillah ibn Khafif asy-Syirazi; seorang sufi terkemuka (w 371 H), Zahir ibn
Ahmad as-Sarakhsi (w 389 H), Abu Bakr al-Jurjani al-Isma’ili (w 371 H), Abu Bakar al-Audani (w
385 H), Abu al-Hasan Abd al-Aziz ibn Muhammad yang dikenal dengan sebutan ad-Dumal, Abu
Ja’far as-Sulami an-Naqqasy (w 379 H), Abu Abdillah al-Ashbahani (w 381 H), Abu Muhammad al-
Qurasyi az-Zuhri (w 382 H), Abu Manshur ibn Hamsyad (w 388 H), Abu al-Husain ibn Sam’un salah
seorang sufi ternama (w 387 H), Abu Abd ar-Rahman asy-Syuruthi al-Jurjani (w 389 H), Abu
Abdillah Muhammad ibn Ahmad; Ibn Mujahid ath-Tha’i, Bundar ibn al-Husain ibn Muhammad al-
Muhallab yang lebih dikenal Abu al-Husain ash-Shufi (w 353 H), dan Abu al-Hasan Ali ibn Mahdi
ath-Thabari.
B. Angkatan Ke Dua
Diantara angkatan ke dua pasca generasi al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari adalah; Abu Sa’ad ibn
Abi Bakr al-Isma’ili al-Jurjani (w 396 H), Abu Nashr ibn Abu Bakr Ahmad ibn Ibrahim al-Isma’ili (w
405 H), Abu ath-Thayyib ibn Abi Sahl ash-Shu’luki, Abu al-Hasan ibn Dawud al-Muqri ad-Darani, al-
Qâdlî Abu Bakar Muhammad al-Baqillani (w 403 H), Abu Bakar Ibn Furak (w 406 H), Abu Ali ad-
Daqqaq; seorang sufi terkemuka (w 405 H), Abu Abdillah al-Hakim an-Naisaburi; penulis kitab al-
Mustadrak ‘Alâ ash-Shahîhain, Abu Sa’ad al-Kharqusyi, Abu Umar al-Basthami, Abu al-Qasim al-
Bajali, Abu al-Hasan ibn Masyadzah, Abu Thalib al-Muhtadi, Abu Ma’mar ibn Sa’ad al-Isma’ili, Abu
Hazim al-Abdawi al-A’raj, Abu Ali ibn Syadzan, al-Hâfizh Abu Nu’aim al-Ashbahani penulis kitab
Hilyah al-Auliyâ’ Fî Thabaqât al-Ashfiyâ’ (w 430 H), Abu Hamid ibn Dilluyah, Abu al-Hasan al-
Balyan al-Maliki, Abu al-Fadl al-Mumsi al-Maliki, Abu al-Qasim Abdurrahman ibn Abd al-Mu’min
al-Makki al-Maliki, Abu Bakar al-Abhari, Abu Muhammad ibn Abi Yazid, Abu Muhammad ibn at-
Tabban, Abu Ishaq Ibrahim ibn Abdillah al-Qalanisi.
C. Angkatan Ke Tiga
Diantaranya; Abu al-Hasan as-Sukari, Abu Manshur al-Ayyubi an-Naisaburi, Abd al-Wahhab al-
Maliki, Abu al-Hasan an-Nu’aimi, Abu Thahir ibn Khurasyah, Abu Manshur Abd al-Qahir ibn Thahir
al-Baghadadi (w 429 H) penulis kitab al-Farq Bayn al-Firaq, Abu Dzarr al-Harawi, Abu Bakar ibn al-
Jarmi, Abu Muhammad Abdulah ibn Yusuf al-Juwaini; ayah Imam al-Haramain (w 434 H), Abu al-
Qasim ibn Abi Utsman al-Hamadzani al-Baghdadi, Abu Ja’far as-Simnani al-Hanafi, Abu Hatim al-
Qazwini, Rasya’ ibn Nazhif al-Muqri, Abu Muhammad al-Ashbahani yang dikenal dengan sebutan Ibn
al-Labban, Sulaim ar-Razi, Abu Abdillah al-Khabbazi, Abu al-Fadl ibn Amrus al-Maliki, Abu al-
Qasim Abd al-Jabbar ibn Ali al-Isfirayini, al-Hâfizh Abu Bakr Ahmad ibn al-Husain al-Bayhaqi;
penulis Sunan al-Bayhaqi (w 458 H), dan Abu Iran al-Fasi.
D. Angkatan Ke Empat
Diantaranya; al-Hâfizh al-Khathib al-Baghdadi (w 463 H), Abu al-Qasim Abd al-Karim ibn Hawazan
al-Qusyairi penulis kitab ar-Risâlah al-Qusyairiyyah (w 465 H), Abu Ali ibn Abi Huraisah al-
Hamadzani, Abu al-Muzhaffar al-Isfirayini penulis kitab at-Tabshîr Fî ad-Dîn Wa Tamyîz al-Firqah
an-Nâjiyah Min al-Firaq al-Hâlikîn (w 471 H), Abu Ishaq asy-Syirazi; penulis kitab at-Tanbîh Fî al-
Fiqh asy-Syâfi’i (w 476 H), Abu al-Ma’ali Abd al-Malik ibn Abdullah al-Juwaini yang lebih dikenal
dengan Imam al-Haramain (w 478 H), Abu Sa’id al-Mutawalli (w 478 H), Nashr al-Maqdisi, Abu
Abdillah ath-Thabari, Abu Ishaq at-Tunusi al-Maliki, Abu al-Wafa’ Ali ibn Aqil al-Hanbali (w 513 H)
pimpinan ulama madzhab Hanbali di masanya, ad-Damighani al-Hanafi, dan Abu Bakar an-Nashih
al-Hanafi.
E. Angkatan Ke Lima
Diantaranya; Abu al-Muzhaffar al-Khawwafi, Ilkiya, Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-
Ghazali (w 505 H), Abu al-Mu’ain Maimun ibn Muhammad an-Nasafi (w 508 H), asy-Syasyi, Abd ar-
Rahim ibn Abd al-Karim yang dikenal dengan Abu Nashr al-Qusyairi (w 514 H), Abu Sa’id al-Mihani,
Abu Abdillah ad-Dibaji, Abu al-Abbas ibn ar-Ruthabi, Abu Abdillah al-Furawi, Abu Sa’id ibn Abi
Shalih al-Mu’adz-dzin, Abu al-Hasan as-Sulami, Abu Manshur ibn Masyadzah al-Ashbahani, Abu
Hafsh Najmuddin Umar ibn Muhammad an-Nasafi (w 538 H) penulis kitab al-‘Aqîdah an-Nasafiyyah,
Abu al-Futuh al-Isfirayini, Nashrullah al-Mishshishi, Abu al-Walid al-Baji, Abu Umar ibn Abd al-Barr
al-Hâfizh, Abu al-Hasan al-Qabisi, al-Hâfizh Abu al-Qasim ibn Asakir (w 571 H), al-Hâfizh Abu al-
Hasan al-Muradi, al-Hâfizh Abu Sa’ad ibn as-Sam’ani, al-Hâfizh Abu Thahir as-Silafi, al-Qâdlî ‘Iyadl
ibn Muhammad al-Yahshubi (w 533 H), Abu al-Fath Muhammad ibn Abd al-Karim asy-Syahrastani
(w 548 H) penulis kitab al-Milal Wa an-Nihal, as-Sayyid Ahmad ar-Rifa’i (w 578 H) perintis tarekat
ar-Rifa’iyyah, as-Sulthân Shalahuddin al-Ayyubi (w 589 H) yang telah memerdekakan Bait al-Maqdis
dari bala tentara Salib, al-Hâfizh Abd ar-Rahman ibn Ali yang lebih dikenal dengan sebutan Ibn al-
Jawzi (w 597 H).
F. Angkatan Ke Enam
Diantaranya; Fakhruddin ar-Razi al-Mufassir (w 606 H), Saifuddin al-Amidi (w 631 H), Izuddin ibn
Abd as-Salam Sulthân al-‘Ulamâ’ (w 660 H), Amr ibn al-Hajib al-Maliki (w 646 H), Jamaluddin
Mahmud ibn Ahmad al-Hashiri (w 636 H) pempinan ulama madzhab Hanafi di masanya, al-
Khusrusyahi, Taqiyuddin ibn Daqiq al-Ied (w 702 H), Ala’uddin al-Baji, al-Hâfizh Taqiyyuddin Ali ibn
Abd al-Kafi as-Subki (w 756 H), Tajuddin Abu Nashr Abd al-Wahhab ibn Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki
(w 771 H), Shadruddin ibn al-Murahhil, Shadruddin Sulaiman ibn Abd al-Hakam al-Maliki,
Syamsuddin al-Hariri al-Khathib, Jamaluddin az-Zamlakani, Badruddin Muhammad ibn Ibrahim yang
dikenal dengan sebutan Ibn Jama’ah (w 733 H), Muhammad ibn Ahmad al-Qurthubi penulis kitab
Tafsir al-Jâmi’ Li Ahkâm al-Qur’ân atau lebih dikenal dengan at-Tafsîr al-Qurthubi (w 671 H),
Syihabuddin Ahmad ibn Yahya al-Kilabi al-Halabi yang dikenal dengan sebutan Ibn Jahbal (w 733 H),
Syamsuddin as-Saruji al-Hanafi, Syamsuddin ibn al-Hariri al-Hanafi, Adluddin al-Iji asy-Syiraji, al-
Hâfizh Yahya ibn asy-Syaraf an-Nawawi; penulis al-Minhâj Bi Syarh Shahîh Muslim ibn al-Hajjâj (w
676 H), al-Malik an-Nâshir Muhammad ibn Qalawun (w 741 H),al-Hâfizh Ahmad ibn Yusuf yang
dikenal dengan sebutan as-Samin al-Halabi (w 756 H), al-HâfizhShalahuddin Abu Sa’id al-Ala-i (w
761 H), Abdullah ibn As’ad al-Yafi’i seorang sufi terkemuka (w 768 H), Mas’ud ibn Umar at-
Taftazani (w 791 H).
G. Angkatan Ke Tujuh
Diantaranya; al-Hâfizh Abu Zur’ah Ahmad ibn Abd ar-Rahim al-Iraqi (w 826 H), Taqiyyuddin Abu
Bakr al-Hishni ibn Muhammad; penulis Kifâyah al-Akhyâr (w 829 H), Amîr al-Mu’minîn Fî al-Hadîts
al-Hâfizh Ahmad ibn Hajar al-Asqalani; penulis kitab Fath al-Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri (w 852
H), Muhammad ibn Muhammad al-Hanafi yang lebih dikenal dengan sebutan Ibn Amir al-Hajj (w 879
H), Badruddin Mahmud ibn Ahmad al-Aini; penulis ‘Umdah al-Qâri’ Bi Syarh Shahîh al-Bukhâri (w
855 H), Jalaluddin Muhammad ibn Ahmad al-Mahalli (w 864 H), Burhanuddin Ibrahim ibn Umar al-
Biqa’i; penulis kitab tafsirNazhm ad-Durar (w 885 H), Abu Abdillah Muhammad ibn Yusuf as-Sanusi;
penulis al-‘Aqîdah as-Sanûsiyyah (w 895 H).
H. Angkatan ke Delapan
Al-Qâdlî Musthafa ibn Muhammad al-Kastulli al-Hanafi (w 901 H), al-Hâfizh Muhammad ibn Abd ar-
Rahman as-Sakhawi (w 902 H), al-Hâfizh Jalaluddin Abd ar-Rahman ibn Abu Bakr as-Suyuthi (w
911 H), Syihabuddin Abu al-Abbas Ahmad ibn Muhammad al-Qasthallani; penulis Irsyâd as-Sâri Bi
SyarhShahîh al-Bukhâri (w 923 H), Zakariyya al-Anshari (w 926 H), al-Hâfizh Muhammad ibn Ali
yang lebih dikenal dengan sebutan al-Hâfizh Ibn Thulun al-Hanafi (w 953 H).
I. Angkatan Ke Sembilan Dan Seterusnya
Abd al-Wahhab asy-Sya’rani (w 973 H), Syihabuddin Ahmad ibn Muhammad yang dikenal dengan
sebutan Ibn Hajar al-Haitami (w 974 H), Mulla Ali al-Qari (w 1014 H), Burhanuddin Ibrahim ibn
Ibrahim ibn Hasan al-Laqqani; penulis Nazham Jawharah at-Tauhîd (w 1041 H), Ahmad ibn
Muhammad al-Maqarri at-Tilimsani; penulis Nazham Idlâ’ah ad-Dujunnah (w 1041 H), al-Muhaddits
Muhammad ibn Ali yang lebih dikenal dengan nama Ibn Allan ash-Shiddiqi (w 1057 H), Kamaluddin
al-Bayyadli al-Hanafi (w 1098 H), Muhammad ibn Abd al-Baqi az-Zurqani (w 1122 H), as-Sayyid
Abdullah ibn Alawi al-Haddad al-Hadlrami al-Husaini; penulis Râtib al-Haddâd (1132 H), Muhammad
ibn Abd al-Hadi as-Sindi; penulis kitab Syarh Sunan an-Nasâ-i (w 1138 H), Abd al-Ghani an-Nabulsi
(w 1143 H), Abu al-Barakat Ahmad ibn Muhammad ad-Dardir; penulis al-Kharîdah al-Bahiyyah (w
1201 H), al-Hâfizh as-Sayyid Muhammad Murtadla az-Zabidi (w 1205 H), ad-Dusuqi; penulis
Hâsyiyah Umm al-Barâhîn (w 1230 H), Muhammad Amin ibn Umar yang lebih dikenal dengan
sebutan Ibn Abidin al-Hanafi (w 1252 H).
Nama-nama ulama terkemuka ini hanya mereka yang hidup sampai sekitar abad 12 hijriyyah, dan
itupun hanya sebagiannya saja. Bila hendak kita sebutkan satu persatu, termasuk yang berada di
bawah tingkatan mereka dalam keilmuannya, maka sangat banyak sekali, tidak terhitung jumlahnya,
siapa pula yang sanggup menghitung jumlah bintang di langit, membilang butiran pasir di pantai?
kita akan membutuhkan lembaran kertas yang sangat panjang.
Langganan:
Postingan (Atom)